“Barusan pulang dari sana, hawanya tuh
ngomong Bahasa Korea. Jadi mau beli ini itu, ngucapnya tuh Bahasa Korea. Jadi
pada bingung.”
Agak sulit
mengerti apa maksud dari ‘teater Dokumenter’ yang diproklamasikan oleh Teater Garasi
lewat pementasan mereka, “Sangkar Madu” (1/6). Mungkin, karena pengetahuan saya
yang tidak seberapa dalam bidang seni pertunjukkan ini. Dengan membaca pamflet
yang diberikan ke penonton sebelum pementasan dimulai, tertulislah di sana
bahwa teater dokumenter adalah ‘teater yang mengangkat suatu isu sosial di
masyarakat dengan mengolah fakta dan data-data penelitian yang diwujudkan ke
atas panggung’.
Isu sosial yang
diangkat adalah buruh migran. Seperti yang kita tahu, Indonesia memasok banyak
sekali tenaga kerja ke luar negeri. Kisah ironis yang sering diberitakan media
massa mengenai mereka adalah perlakuan dari tuan rumah yang semena-mena. Upah
yang tidak dibayar, objek pelecehan seksual, dan yang lebih mengenaskan lagi
adalah terjadinya kasus kematian akibat dibunuh tuan rumah maupun bunuh diri.
Namun, Sangkar
Madu yang telah dipentaskan di Jogja dan Blitar sebelum saya menontonnya di Erasmus
Huis, Jakarta tidak menceritakan kisah gelap migran buruh sebagai kerangka drama
mereka. Sangkar Madu menunjukkan seperti apa identitas dan modal budaya (cultural capital) yang didapat dari
para buruh migran sekembalinya mereka ke tanah air.

