Menengok isi "Sangkar Madu"

Thursday, June 27, 2013


“Barusan pulang dari sana, hawanya tuh ngomong Bahasa Korea. Jadi mau beli ini itu, ngucapnya tuh Bahasa Korea. Jadi pada bingung.”

Agak sulit mengerti apa maksud dari ‘teater Dokumenter’ yang diproklamasikan oleh Teater Garasi lewat pementasan mereka, “Sangkar Madu” (1/6). Mungkin, karena pengetahuan saya yang tidak seberapa dalam bidang seni pertunjukkan ini. Dengan membaca pamflet yang diberikan ke penonton sebelum pementasan dimulai, tertulislah di sana bahwa teater dokumenter adalah ‘teater yang mengangkat suatu isu sosial di masyarakat dengan mengolah fakta dan data-data penelitian yang diwujudkan ke atas panggung’.

Isu sosial yang diangkat adalah buruh migran. Seperti yang kita tahu, Indonesia memasok banyak sekali tenaga kerja ke luar negeri. Kisah ironis yang sering diberitakan media massa mengenai mereka adalah perlakuan dari tuan rumah yang semena-mena. Upah yang tidak dibayar, objek pelecehan seksual, dan yang lebih mengenaskan lagi adalah terjadinya kasus kematian akibat dibunuh tuan rumah maupun bunuh diri.

Namun, Sangkar Madu yang telah dipentaskan di Jogja dan Blitar sebelum saya menontonnya di Erasmus Huis, Jakarta tidak menceritakan kisah gelap migran buruh sebagai kerangka drama mereka. Sangkar Madu menunjukkan seperti apa identitas dan modal budaya (cultural capital) yang didapat dari para buruh migran sekembalinya mereka ke tanah air.

Menantang Street Art, Menantang Ruang

Monday, June 24, 2013


Sekilas adalah rumah besar bergaya kontemporer yang menjadi basis dari sebuah collective artist di bilangan Cimanggis, Cibubur. Namun, jika anda melangkah ke ruang galeri, terlihat ruangan yang dindingnya tercoreng warna-warni dan menyerukan suara-suara jalan.

Kini, galeri Roemah 9a bukan lagi wujudnya yang biasa. Seluruh dindingnya, sampai ke langit-langit, dengan penjamahan berbagai jengkal yang bisa dijadikan medium, habis terpakai untuk menjamu berbagai rupa Street Art ditambah semburan slogan kata-kata subversif seperti, ‘tetap masih bisa tertawa walau ditipu negara’ yang banyak membuat titik henti pandangan.

Pameran Street Art Menantang Ruang adalah sebuah tema yang dipilih oleh komunitas Roemah 9a. Pameran yang dibuka secara resmi tanggal 27 April 2013 ini menampilkan sekitar dua puluh street artist yang telah biasa memarkah ruang publik. Antara lain Bujangan Urban, Andi Rharahrha, Here Here, Koma, juga The Yellow Dino beserta lainnya yang berasal dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Tangerang, sampai Garut. Tidak tanggung-tanggung, mereka diizinkan untuk memarkah langsung ruang galeri.

“Kita memang sudah memikirkan hal ini dari awal. Esensi street art sendiri adalah kejelian mereka dalam menindak dan menyiasati ruang demi menciptakan medium karya rupa. Oleh karena itu, kami pun sebagai pihak penyelenggara juga bertindak radikal, yaitu menjadikan dinding galleri sebagai kanvas mereka.

Dolphin Division Press Release

Sunday, June 9, 2013




Awalnya, sekawan Filsafat 2009 yakni Rizky, Noorca, dan
Faturrahman menjadi lebih akrab karena mempunyai
ketertarikan yang sama. Ketiganya punya latar bermusik yang
telah mereka mulai sebelum masa kuliah: ngeband dan mengisi
panggung kecil menjadi hal biasa. Sehingga, ketika
ketiganya mengisi peran di perhelatan kampus Sastra namun
dengan formasi terpisah – Noorca menyanyi perdana di Melodi
Kansas, Faturrahman yang sering jadi additional band, dan
Rizky yang lebih dulu mapan dengan Filosofi Empat Negara ‒
bisa kita tebak pastilah sekawan ini berbuat sesuatu. Tags
: cabut kuliah, nongkrong di meja oren, dan Led Zeppelin.
Tidak lama, muncul sosok di seberang bernama Raga, Sastra
Perancis 2010 yang menampilkan talentanya dalam membetot
bass. Berbekal referensi jazz dan pengalaman additional di
beberapa band lokal, Raga ikut memasukkan banyak warna yang
mendukung eksplorasi band. Formasi band kemudian dilengkapi oleh
Goldy, Sastra Inggris 09, drummer yang sebelumnya
bermain di Melting Pot. Peleburan dari masing-masing
musikalitas mereka adalah blues yang sarat nuansa
psychedelic. The Experience Club menjadi nama titik mula
mereka, hingga selanjutnya, pada sebuah malam dengan
kondisi mata setengah, The Experience Club mengubah alter
ego-nya menjadi Dolphin Division. Kredit panggung yang
telah tercatat adalah Anniversary Expressions – Philo Art
Space, Festival Budaya 2012, dan Unfinished Galeri Antara.
MuddyWaters, Janis Joplin, dan Led Zeppelin adalah nomor-nomor
yang sering dibawakan Dolphin Division.Tak lama, Dolphin
akan kembali dengan racikan lagu-lagu sendiri yang
mengindikasikan ekspresi audial mereka yang makin mandiri.

CP : Caca 0877-85147595