Menantang Street Art, Menantang Ruang

Monday, June 24, 2013


Sekilas adalah rumah besar bergaya kontemporer yang menjadi basis dari sebuah collective artist di bilangan Cimanggis, Cibubur. Namun, jika anda melangkah ke ruang galeri, terlihat ruangan yang dindingnya tercoreng warna-warni dan menyerukan suara-suara jalan.

Kini, galeri Roemah 9a bukan lagi wujudnya yang biasa. Seluruh dindingnya, sampai ke langit-langit, dengan penjamahan berbagai jengkal yang bisa dijadikan medium, habis terpakai untuk menjamu berbagai rupa Street Art ditambah semburan slogan kata-kata subversif seperti, ‘tetap masih bisa tertawa walau ditipu negara’ yang banyak membuat titik henti pandangan.

Pameran Street Art Menantang Ruang adalah sebuah tema yang dipilih oleh komunitas Roemah 9a. Pameran yang dibuka secara resmi tanggal 27 April 2013 ini menampilkan sekitar dua puluh street artist yang telah biasa memarkah ruang publik. Antara lain Bujangan Urban, Andi Rharahrha, Here Here, Koma, juga The Yellow Dino beserta lainnya yang berasal dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Tangerang, sampai Garut. Tidak tanggung-tanggung, mereka diizinkan untuk memarkah langsung ruang galeri.

“Kita memang sudah memikirkan hal ini dari awal. Esensi street art sendiri adalah kejelian mereka dalam menindak dan menyiasati ruang demi menciptakan medium karya rupa. Oleh karena itu, kami pun sebagai pihak penyelenggara juga bertindak radikal, yaitu menjadikan dinding galleri sebagai kanvas mereka.
Kami rasa, jika pameran street art dihadirkan dengan medium yang mengikuti kaidah, akan menghilangkan  roh dari street art sendiri,” tutur Haris Purnomo, sang pemilik galleri. Ternyata, para street artist yang mereka undang terkejut saat mengetahui mereka diperbolehkan ngebom langsung di dinding. ”Akhirnya mereka bersemangat. Proses kreatifnya kami jaga agar mempertahankan spontanitas dan daya intuitif street artist ”.

Pengerjaan karya berlangsung mulai dari seminggu sebelum hari pembukaan. Setelah diberitahu bahwa dinding galleri menjadi kanvas karya mereka, para street artist ini menyebar ke seluruh penjuru rumah untuk menandai wilayahnya masing-masing. Perebutan ruang pun terjadi. Mereka datang di hari yang berbeda-beda, mewujudkan karya yang sudah maupun setengah selesai, dan dengan sekenanya melakukan tumpang-tindih karya yang telah ada.

Contohnya tampak pada sebuah dinding abu-abu yang bertuliskan, ‘satu negara di bawah kontrol koperasi’. Menilik cerita dari Umbu Tanggela, dinding tersebut mengalami lima kali penimpaan dari masing-masing seniman yang berbeda. Dinding yang berada di petak kiri galleri ini diisi dengan mural, stensil, dan sticker art. Sebuah peristiwa yang mengingatkan kita akan sifat street art yang temporer.

“Menantang Ruang” tidak hanya berlaku di dinding galeri. Ada beberapa karya tambahan yang juga diciptakan spontan. Sisa-sisa dari enam ratus cat aerosol yang habis terpakai untuk pameran ini dijadikan atribut penghias instalasi dari manekin yang disematkan ke bagian tubuhnya, dan juga menjadi rangka miniatur robot mini yang diciptakan dari ujung spray cat. Puluhan lainnya disusun rapi di rak yang berdiri di salah satu sisi ruangan. Di tengah dan di luar gallery, dua mobil di-phylox penuh sampai ke bagian dalamnya, yang jika dibuka masih menyisakan bau cat aerosol.

Memaknai Ulang Jalanan

Sampai sekarang, street art masih dipandang sebelah mata sebuah seni. Penerimaan masyarakat terhadap karya-karyanya rentan dimaknai sebagai tindak vandalisme dan menimbulkan sinisme bagi golongan tertentu. Penilaiani bisa muncul berbeda di setiap orang, namun mungkin kita harus meluangkan pikiran untuk menangkap maksud yang ingin disampaikan ‘tangan-tangan jahil seniman jalan’ ini.

Tema-tema street art yang subversif mengingatkan masyarakat pada realita sekaligus menciptakan kesadaran terhadap isu sosial dan politik. Dengan menyandang identitas anonim, street art menangkap gejolak di masyarakat, kemudian menampakkannya di ruang publik sebagai suara-suara sipil yang sering kali mendapat perhatian sambil lalu. Ia melucutkan keterbatasan itu dan mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam sebuah wujud rupa.

Begitu pula yang disampaikan oleh Jim Supangkat, pada talkshownya Selasa lalu, yang menjadi bagian dari event pameran ini. Ia menjelaskan banyak tentang fenomena Street Art dan perjalanan seni rupa kontemporer yang menciptakan perluasan kemungkinan estetik dalam berbagai medium, berikut dengan beberapa contoh yang terjadi serentak di berbagai belahan dunia.

Street Art mengingatkan kita pada penciptaan sebuah karya yang bertumpu pada penggabungan intuisi dan emosi. Hal yang sebenarnya sangat fundamental dalam membangun sensitivitas rasa, di balik hadirnya ilmu pengetahuan yang bersifat metodis teoritik. Jim juga mengungkapkan, jalan menjadi sebuah medium yang melahirkan banyak gagasan karena berhasil menyajikan nilai-nilai kebudayaan sekaligus membentuk rantai relasi dengan masyarakatnya.

Terlepas dari wahana jalanan – yang bisa dirasakan terjadi penyempitan makna terhadap kata ini , sebuah pameran street art menjadi sebuah usaha untuk menciptakan momentum demi mempertemukan gagasan dan penghargaan akan penciptaan kreatif nan intutif, sebuah telaah personal, beserta harapan untuk melahirkan wacana besar yang berkepanjangan.

0 comments:

Post a Comment