Sekilas adalah rumah besar bergaya
kontemporer yang menjadi basis dari sebuah collective artist di bilangan
Cimanggis, Cibubur. Namun, jika anda melangkah ke ruang galeri, terlihat ruangan
yang dindingnya tercoreng warna-warni dan menyerukan suara-suara jalan.
Kini, galeri
Roemah 9a bukan lagi wujudnya yang biasa. Seluruh dindingnya, sampai ke
langit-langit, dengan penjamahan berbagai jengkal yang bisa dijadikan medium,
habis terpakai untuk menjamu berbagai rupa Street Art ditambah semburan slogan kata-kata
subversif seperti, ‘tetap masih bisa
tertawa walau ditipu negara’ yang banyak membuat titik henti pandangan.
Pameran Street
Art Menantang Ruang adalah sebuah tema yang dipilih oleh komunitas Roemah 9a.
Pameran yang dibuka secara resmi tanggal 27 April 2013 ini menampilkan sekitar
dua puluh street artist yang telah biasa memarkah ruang publik. Antara lain
Bujangan Urban, Andi Rharahrha, Here Here, Koma, juga The Yellow Dino beserta lainnya
yang berasal dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Tangerang, sampai Garut. Tidak
tanggung-tanggung, mereka diizinkan untuk memarkah langsung ruang galeri.
“Kita memang
sudah memikirkan hal ini dari awal. Esensi street art sendiri adalah kejelian
mereka dalam menindak dan menyiasati ruang demi menciptakan medium karya rupa. Oleh
karena itu, kami pun sebagai pihak penyelenggara juga bertindak radikal, yaitu
menjadikan dinding galleri sebagai kanvas mereka.
Kami rasa, jika pameran street art dihadirkan dengan medium yang mengikuti kaidah, akan menghilangkan roh dari street art sendiri,” tutur Haris Purnomo, sang pemilik galleri. Ternyata, para street artist yang mereka undang terkejut saat mengetahui mereka diperbolehkan ngebom langsung di dinding. ”Akhirnya mereka bersemangat. Proses kreatifnya kami jaga agar mempertahankan spontanitas dan daya intuitif street artist ”.
Kami rasa, jika pameran street art dihadirkan dengan medium yang mengikuti kaidah, akan menghilangkan roh dari street art sendiri,” tutur Haris Purnomo, sang pemilik galleri. Ternyata, para street artist yang mereka undang terkejut saat mengetahui mereka diperbolehkan ngebom langsung di dinding. ”Akhirnya mereka bersemangat. Proses kreatifnya kami jaga agar mempertahankan spontanitas dan daya intuitif street artist ”.
Pengerjaan
karya berlangsung mulai dari seminggu sebelum hari pembukaan. Setelah
diberitahu bahwa dinding galleri menjadi kanvas karya mereka, para street
artist ini menyebar ke seluruh penjuru rumah untuk menandai wilayahnya
masing-masing. Perebutan ruang pun terjadi. Mereka datang di hari yang
berbeda-beda, mewujudkan karya yang sudah maupun setengah selesai, dan dengan
sekenanya melakukan tumpang-tindih karya yang telah ada.
Contohnya
tampak pada sebuah dinding abu-abu yang bertuliskan, ‘satu negara di bawah kontrol koperasi’. Menilik cerita dari Umbu
Tanggela, dinding tersebut mengalami lima kali penimpaan dari masing-masing
seniman yang berbeda. Dinding yang berada di petak kiri galleri ini diisi
dengan mural, stensil, dan sticker art.
Sebuah peristiwa yang mengingatkan kita akan sifat street art yang temporer.
“Menantang
Ruang” tidak hanya berlaku di dinding galeri. Ada beberapa karya tambahan yang
juga diciptakan spontan. Sisa-sisa dari enam ratus cat aerosol yang habis
terpakai untuk pameran ini dijadikan atribut penghias instalasi dari manekin yang
disematkan ke bagian tubuhnya, dan juga menjadi rangka miniatur robot mini yang
diciptakan dari ujung spray cat.
Puluhan lainnya disusun rapi di rak yang berdiri di salah satu sisi ruangan. Di
tengah dan di luar gallery, dua mobil di-phylox
penuh sampai ke bagian dalamnya, yang jika dibuka masih menyisakan bau cat
aerosol.
Memaknai Ulang Jalanan
Sampai
sekarang, street art masih dipandang sebelah mata sebuah seni. Penerimaan masyarakat
terhadap karya-karyanya rentan dimaknai sebagai tindak vandalisme dan menimbulkan
sinisme bagi golongan tertentu. Penilaiani bisa muncul berbeda di setiap orang,
namun mungkin kita harus meluangkan pikiran untuk menangkap maksud yang ingin
disampaikan ‘tangan-tangan jahil seniman jalan’ ini.
Tema-tema
street art yang subversif mengingatkan masyarakat pada realita sekaligus menciptakan
kesadaran terhadap isu sosial dan politik. Dengan menyandang identitas anonim,
street art menangkap gejolak di masyarakat, kemudian menampakkannya di ruang
publik sebagai suara-suara sipil yang sering kali mendapat perhatian sambil
lalu. Ia melucutkan keterbatasan itu dan mempertemukan berbagai elemen
masyarakat dalam sebuah wujud rupa.
Begitu pula
yang disampaikan oleh Jim Supangkat, pada talkshownya Selasa lalu, yang menjadi
bagian dari event pameran ini. Ia menjelaskan banyak tentang fenomena Street Art dan perjalanan seni rupa
kontemporer yang menciptakan perluasan kemungkinan estetik dalam berbagai
medium, berikut dengan beberapa contoh yang terjadi serentak di berbagai
belahan dunia.
Street Art
mengingatkan kita pada penciptaan sebuah karya yang bertumpu pada penggabungan
intuisi dan emosi. Hal yang sebenarnya sangat fundamental dalam membangun
sensitivitas rasa, di balik hadirnya ilmu pengetahuan yang bersifat metodis
teoritik. Jim juga mengungkapkan, jalan menjadi sebuah medium yang melahirkan
banyak gagasan karena berhasil menyajikan nilai-nilai kebudayaan sekaligus membentuk
rantai relasi dengan masyarakatnya.
Terlepas dari
wahana jalanan – yang bisa dirasakan terjadi penyempitan makna terhadap kata
ini ‒, sebuah pameran street art menjadi sebuah usaha untuk menciptakan
momentum demi mempertemukan gagasan dan penghargaan akan penciptaan kreatif nan
intutif, sebuah telaah personal, beserta harapan untuk melahirkan wacana besar yang
berkepanjangan.
0 comments:
Post a Comment