“Barusan pulang dari sana, hawanya tuh
ngomong Bahasa Korea. Jadi mau beli ini itu, ngucapnya tuh Bahasa Korea. Jadi
pada bingung.”
Agak sulit
mengerti apa maksud dari ‘teater Dokumenter’ yang diproklamasikan oleh Teater Garasi
lewat pementasan mereka, “Sangkar Madu” (1/6). Mungkin, karena pengetahuan saya
yang tidak seberapa dalam bidang seni pertunjukkan ini. Dengan membaca pamflet
yang diberikan ke penonton sebelum pementasan dimulai, tertulislah di sana
bahwa teater dokumenter adalah ‘teater yang mengangkat suatu isu sosial di
masyarakat dengan mengolah fakta dan data-data penelitian yang diwujudkan ke
atas panggung’.
Isu sosial yang
diangkat adalah buruh migran. Seperti yang kita tahu, Indonesia memasok banyak
sekali tenaga kerja ke luar negeri. Kisah ironis yang sering diberitakan media
massa mengenai mereka adalah perlakuan dari tuan rumah yang semena-mena. Upah
yang tidak dibayar, objek pelecehan seksual, dan yang lebih mengenaskan lagi
adalah terjadinya kasus kematian akibat dibunuh tuan rumah maupun bunuh diri.
Namun, Sangkar
Madu yang telah dipentaskan di Jogja dan Blitar sebelum saya menontonnya di Erasmus
Huis, Jakarta tidak menceritakan kisah gelap migran buruh sebagai kerangka drama
mereka. Sangkar Madu menunjukkan seperti apa identitas dan modal budaya (cultural capital) yang didapat dari
para buruh migran sekembalinya mereka ke tanah air.
Panggung dibuka
oleh sang sutradara, Verry Handayani yang berkelakar sedikit tentang cikal
bakal pementasan. Pementasan ini merupakan gagasan panjang dari sang sutradara
yang telah menaruh perhatiannya pada subjek migran sejak tahun 2008. Sangkar Madu
kemudian melibatkan tim peneliti dari FIB UI yang membuat riset berjudul
“Migrasi dan Identitas Budaya: Pemerolehan Modal Budaya Pekerja Migran Asal
Indonesia”.
Hasilnya,
penonton disuguhkan dengan cerita dari sebuah kampung buruh migran.
Masing-masing dari mereka menceritakan pengalamannya saat bertugas di luar
negeri, seperti dari Bu Saerah tentang Arab Saudi. Mas Tri tentang Korea, Mbak
Yani tentang Taiwan, serta tokoh Asong dan Bu Tami yang merupakan penduduk lama
kampung tersebut.
Rangkai
peristiwa kehidupan mereka sehari-hari yang dibenturkan pada kebudayaan
masyarakat setempat menjadi benang-benang narasi yang mengikat dan mengantarkan
satu cerita ke cerita lain. Bagaimana mereka sebagai kaum migran dengan
kapabilitas sebagai ‘tenaga kerja kelas dua’ menyerap nilai-nilai lokal yang
lingkupnya pun tidak jauh dari seputar hiruk pikuk rumah tangga dan sabda majikan.
Narasi kecil yang sebenarnya menggambarkan proses sosialisasi primer di mana
rumah sebagai arena utamanya.
Mbak Yani
sebagai seorang mantan buruh migran dari Taiwan digambarkan dengan karakter
perempuan lincah dan energik. Pakaiannya yang berlapis-lapis dengan stocking
dan sepatu boots mengingatkan kita pada tokoh-tokoh di film drama Asia Timur.
Karakter ini sangat menghibur penonton dengan gestur tubuhnya yang begitu
hidup, terlebih pada gerakan mengibas rambut panjangnya yang menimbulkan gelak
tawa J
Secara
keseluruhan, tiap karakter bertutur sangat interaktif sehingga membangun
suasana. Erwin Zubiyan yang berlaku sebagai Music Director bercerita pada saya
bahwa tim pementasan ini terjun langsung ke desa Jangkaran, Kulon Progo, Yogyakarta mulai dari
Januari 2013. Penjiwaan dan pembangunan karakter yang diperankan aktor adalah
hasil dari pendalaman mereka terhadap tokoh nyata (buruh migran) selama berdiam
di sana.
Eksekursi
panggung yang apik kerap saya temui ketika menonton Teater Garasi. Saya ingin
menjabarkan sedikit catatan saya mengenari karakter scene dan cara membangun
konektivitas ke penonton dalam Sangkar Madu. Perpindahan scene bertumpu pada storytelling
karakter dan pemanfaatan ruang melalui
blocking pemain yang didukung oleh set properti yang efektif. Tanpa
disadari, konteks cerita telah berbeda. Untaian benang-benang narasi semakin memperlihatkan
sebuah keutuhan.
Ada adegan yang
saya ingat ketika Garasi menciptakan sebuah ruang dimensi yang menjadi titik
temu antara aktor dengan penonton. Saya lupa latar belakang adegan ini, namun
gambaran intinya adalah semua pemain serentak membayangkan hal yang sama dengan
membuat postur menoleh ke arah kiri dan tatapan jauh tanpa ujung. Menanggapi
tindakan pemain, proyektor dihidupkan dan ditembak ke dinding panggung yang
menampilkan gambar-gambar sebagai perwujudan reka imaji dari kepala karakter.
Penonton yang semula mengikuti urut adegan dengan berfokus pada pemain,
perlahan menggeser perhatiannya pada tampilan gambar dari sang proyektor. Di
sinilah titik temu terjadi, masing-masing berada dalam ruang dimensi yang sama
dengan reka imaji yang sedang bermain. Entah bagaimana posisi adegan ini dengan
penonton lain, tapi dalam versi saya, saya terajak dan masuk ke dalam muatan
cerita mereka.
Pembukaan
perspektif sosial baru tentang modal budaya buruh migran terasa konsisten
sepanjang lelakon. Seolah-olah kisah kehidupan mereka terasa familiar. Melalui
hal ini, saya rasa Teater Garasi berhasil memproyeksikan kepada penonton
sekeping dari isu sosial yang bergantian tunggu giliran di media massa mendapat
perhatian masyarakat.
“Lalu, bagaimana
dengan kalian?” merupakan kalimat penutup dari teater dokumenter yang berdurasi
hampir 1,5 jam ini. Entah seruan, entah himbauan, atau hanya sebuah pernyataan
kepada kita menyikapi isu buruh migran.



0 comments:
Post a Comment