Menengok isi "Sangkar Madu"

Thursday, June 27, 2013


“Barusan pulang dari sana, hawanya tuh ngomong Bahasa Korea. Jadi mau beli ini itu, ngucapnya tuh Bahasa Korea. Jadi pada bingung.”

Agak sulit mengerti apa maksud dari ‘teater Dokumenter’ yang diproklamasikan oleh Teater Garasi lewat pementasan mereka, “Sangkar Madu” (1/6). Mungkin, karena pengetahuan saya yang tidak seberapa dalam bidang seni pertunjukkan ini. Dengan membaca pamflet yang diberikan ke penonton sebelum pementasan dimulai, tertulislah di sana bahwa teater dokumenter adalah ‘teater yang mengangkat suatu isu sosial di masyarakat dengan mengolah fakta dan data-data penelitian yang diwujudkan ke atas panggung’.

Isu sosial yang diangkat adalah buruh migran. Seperti yang kita tahu, Indonesia memasok banyak sekali tenaga kerja ke luar negeri. Kisah ironis yang sering diberitakan media massa mengenai mereka adalah perlakuan dari tuan rumah yang semena-mena. Upah yang tidak dibayar, objek pelecehan seksual, dan yang lebih mengenaskan lagi adalah terjadinya kasus kematian akibat dibunuh tuan rumah maupun bunuh diri.

Namun, Sangkar Madu yang telah dipentaskan di Jogja dan Blitar sebelum saya menontonnya di Erasmus Huis, Jakarta tidak menceritakan kisah gelap migran buruh sebagai kerangka drama mereka. Sangkar Madu menunjukkan seperti apa identitas dan modal budaya (cultural capital) yang didapat dari para buruh migran sekembalinya mereka ke tanah air.

Panggung dibuka oleh sang sutradara, Verry Handayani yang berkelakar sedikit tentang cikal bakal pementasan. Pementasan ini merupakan gagasan panjang dari sang sutradara yang telah menaruh perhatiannya pada subjek migran sejak tahun 2008. Sangkar Madu kemudian melibatkan tim peneliti dari FIB UI yang membuat riset berjudul “Migrasi dan Identitas Budaya: Pemerolehan Modal Budaya Pekerja Migran Asal Indonesia”.

Hasilnya, penonton disuguhkan dengan cerita dari sebuah kampung buruh migran. Masing-masing dari mereka menceritakan pengalamannya saat bertugas di luar negeri, seperti dari Bu Saerah tentang Arab Saudi. Mas Tri tentang Korea, Mbak Yani tentang Taiwan, serta tokoh Asong dan Bu Tami yang merupakan penduduk lama kampung tersebut.

Rangkai peristiwa kehidupan mereka sehari-hari yang dibenturkan pada kebudayaan masyarakat setempat menjadi benang-benang narasi yang mengikat dan mengantarkan satu cerita ke cerita lain. Bagaimana mereka sebagai kaum migran dengan kapabilitas sebagai ‘tenaga kerja kelas dua’ menyerap nilai-nilai lokal yang lingkupnya pun tidak jauh dari seputar hiruk pikuk rumah tangga dan sabda majikan. Narasi kecil yang sebenarnya menggambarkan proses sosialisasi primer di mana rumah sebagai arena utamanya.

Mbak Yani sebagai seorang mantan buruh migran dari Taiwan digambarkan dengan karakter perempuan lincah dan energik. Pakaiannya yang berlapis-lapis dengan stocking dan sepatu boots mengingatkan kita pada tokoh-tokoh di film drama Asia Timur. Karakter ini sangat menghibur penonton dengan gestur tubuhnya yang begitu hidup, terlebih pada gerakan mengibas rambut panjangnya yang menimbulkan gelak tawa J


Secara keseluruhan, tiap karakter bertutur sangat interaktif sehingga membangun suasana. Erwin Zubiyan yang berlaku sebagai Music Director bercerita pada saya bahwa tim pementasan ini terjun langsung ke desa  Jangkaran, Kulon Progo, Yogyakarta mulai dari Januari 2013. Penjiwaan dan pembangunan karakter yang diperankan aktor adalah hasil dari pendalaman mereka terhadap tokoh nyata (buruh migran) selama berdiam di sana.

Eksekursi panggung yang apik kerap saya temui ketika menonton Teater Garasi. Saya ingin menjabarkan sedikit catatan saya mengenari karakter  scene dan cara membangun konektivitas ke penonton dalam Sangkar Madu. Perpindahan scene bertumpu pada storytelling karakter dan pemanfaatan ruang melalui blocking pemain yang didukung oleh set properti yang efektif. Tanpa disadari, konteks cerita telah berbeda. Untaian benang-benang narasi semakin memperlihatkan sebuah keutuhan.

Ada adegan yang saya ingat ketika Garasi menciptakan sebuah ruang dimensi yang menjadi titik temu antara aktor dengan penonton. Saya lupa latar belakang adegan ini, namun gambaran intinya adalah semua pemain serentak membayangkan hal yang sama dengan membuat postur menoleh ke arah kiri dan tatapan jauh tanpa ujung. Menanggapi tindakan pemain, proyektor dihidupkan dan ditembak ke dinding panggung yang menampilkan gambar-gambar sebagai perwujudan reka imaji dari kepala karakter. Penonton yang semula mengikuti urut adegan dengan berfokus pada pemain, perlahan menggeser perhatiannya pada tampilan gambar dari sang proyektor. Di sinilah titik temu terjadi, masing-masing berada dalam ruang dimensi yang sama dengan reka imaji yang sedang bermain. Entah bagaimana posisi adegan ini dengan penonton lain, tapi dalam versi saya, saya terajak dan masuk ke dalam muatan cerita mereka.


Pembukaan perspektif sosial baru tentang modal budaya buruh migran terasa konsisten sepanjang lelakon. Seolah-olah kisah kehidupan mereka terasa familiar. Melalui hal ini, saya rasa Teater Garasi berhasil memproyeksikan kepada penonton sekeping dari isu sosial yang bergantian tunggu giliran di media massa mendapat perhatian masyarakat.


“Lalu, bagaimana dengan kalian?” merupakan kalimat penutup dari teater dokumenter yang berdurasi hampir 1,5 jam ini. Entah seruan, entah himbauan, atau hanya sebuah pernyataan kepada kita menyikapi isu buruh migran.

0 comments:

Post a Comment