Showing posts with label warta. Show all posts
Showing posts with label warta. Show all posts

100% Menggambar dan Merdeka

Friday, July 12, 2013


Semiotiknya Yayak telanjang, murah meriah, tidak perlu bayar kurator yang mahal-mahal untuk membacanya. –Chandra Johan

Kapan terakhir melihat di pinggir jalan seorang pengemis menengadahkan tangannya dan dengan sekian kali berkata tertatih sambil memasang mimik lirih, “bu…belum makan”. Kapan terakhir memuji sebuah foto berdasar angle atau pencahayaan yang menyajikan deretan rumah reyot di pinggir kali, beserta sisa cucian piring dibasuh dengan air kali yang bau?  Mengenai keberadaan rakyat kecil di lembar keseharian, masihkah kita mengambil aksi karena mereka menyentuh secara nurani?

Ketika Mei lalu saya berkunjung ke pameran Gambar Sebagai Senjata Rakyat Berjiwa Merdeka (oke, betapa tajuk yang lugas dan tegas) semua karyanya eksplosif geram. Sekelumit realita bangsa ditampilkan pada puluhan kanvas yang dicetak grafis. Kuping-kuping setan banyak disematkan pada sejumlah tokoh, pedang berlumuran darah, lanskap khatulistiwa yang dinodai tangan-tangan kapitalis, dan semburan kata berpersonifikasi acung kepal tangan seperti: ‘bakar’, ‘mars pasukan’, dan ‘siap melawan’.

Menengok isi "Sangkar Madu"

Thursday, June 27, 2013


“Barusan pulang dari sana, hawanya tuh ngomong Bahasa Korea. Jadi mau beli ini itu, ngucapnya tuh Bahasa Korea. Jadi pada bingung.”

Agak sulit mengerti apa maksud dari ‘teater Dokumenter’ yang diproklamasikan oleh Teater Garasi lewat pementasan mereka, “Sangkar Madu” (1/6). Mungkin, karena pengetahuan saya yang tidak seberapa dalam bidang seni pertunjukkan ini. Dengan membaca pamflet yang diberikan ke penonton sebelum pementasan dimulai, tertulislah di sana bahwa teater dokumenter adalah ‘teater yang mengangkat suatu isu sosial di masyarakat dengan mengolah fakta dan data-data penelitian yang diwujudkan ke atas panggung’.

Isu sosial yang diangkat adalah buruh migran. Seperti yang kita tahu, Indonesia memasok banyak sekali tenaga kerja ke luar negeri. Kisah ironis yang sering diberitakan media massa mengenai mereka adalah perlakuan dari tuan rumah yang semena-mena. Upah yang tidak dibayar, objek pelecehan seksual, dan yang lebih mengenaskan lagi adalah terjadinya kasus kematian akibat dibunuh tuan rumah maupun bunuh diri.

Namun, Sangkar Madu yang telah dipentaskan di Jogja dan Blitar sebelum saya menontonnya di Erasmus Huis, Jakarta tidak menceritakan kisah gelap migran buruh sebagai kerangka drama mereka. Sangkar Madu menunjukkan seperti apa identitas dan modal budaya (cultural capital) yang didapat dari para buruh migran sekembalinya mereka ke tanah air.

Menantang Street Art, Menantang Ruang

Monday, June 24, 2013


Sekilas adalah rumah besar bergaya kontemporer yang menjadi basis dari sebuah collective artist di bilangan Cimanggis, Cibubur. Namun, jika anda melangkah ke ruang galeri, terlihat ruangan yang dindingnya tercoreng warna-warni dan menyerukan suara-suara jalan.

Kini, galeri Roemah 9a bukan lagi wujudnya yang biasa. Seluruh dindingnya, sampai ke langit-langit, dengan penjamahan berbagai jengkal yang bisa dijadikan medium, habis terpakai untuk menjamu berbagai rupa Street Art ditambah semburan slogan kata-kata subversif seperti, ‘tetap masih bisa tertawa walau ditipu negara’ yang banyak membuat titik henti pandangan.

Pameran Street Art Menantang Ruang adalah sebuah tema yang dipilih oleh komunitas Roemah 9a. Pameran yang dibuka secara resmi tanggal 27 April 2013 ini menampilkan sekitar dua puluh street artist yang telah biasa memarkah ruang publik. Antara lain Bujangan Urban, Andi Rharahrha, Here Here, Koma, juga The Yellow Dino beserta lainnya yang berasal dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Tangerang, sampai Garut. Tidak tanggung-tanggung, mereka diizinkan untuk memarkah langsung ruang galeri.

“Kita memang sudah memikirkan hal ini dari awal. Esensi street art sendiri adalah kejelian mereka dalam menindak dan menyiasati ruang demi menciptakan medium karya rupa. Oleh karena itu, kami pun sebagai pihak penyelenggara juga bertindak radikal, yaitu menjadikan dinding galleri sebagai kanvas mereka.