Semiotiknya Yayak telanjang, murah
meriah, tidak perlu bayar kurator yang mahal-mahal untuk membacanya. –Chandra
Johan
Kapan terakhir
melihat di pinggir jalan seorang pengemis menengadahkan tangannya dan dengan sekian
kali berkata tertatih sambil memasang mimik lirih, “bu…belum makan”. Kapan
terakhir memuji sebuah foto berdasar angle
atau pencahayaan yang menyajikan deretan rumah reyot di pinggir kali, beserta
sisa cucian piring dibasuh dengan air kali yang bau? Mengenai keberadaan rakyat kecil di lembar
keseharian, masihkah kita mengambil aksi karena mereka menyentuh secara nurani?
Ketika Mei lalu
saya berkunjung ke pameran Gambar Sebagai Senjata Rakyat Berjiwa Merdeka (oke,
betapa tajuk yang lugas dan tegas) semua karyanya eksplosif geram. Sekelumit
realita bangsa ditampilkan pada puluhan kanvas yang dicetak grafis.
Kuping-kuping setan banyak disematkan pada sejumlah tokoh, pedang berlumuran
darah, lanskap khatulistiwa yang dinodai tangan-tangan kapitalis, dan semburan
kata berpersonifikasi acung kepal tangan seperti: ‘bakar’, ‘mars pasukan’, dan ‘siap
melawan’.
Banyak cerita
menarik yang bisa kita dapat tentang Yayak ‘Kecrit’ Yamaka, sang pelukis.
Apalah arti kita bila mengeluh asam garam kehidupan dibandingkan dirinya yang
(memilih untuk menjadi) seniman aktivis dan bersuara tentang rakyat kecil. Dua
puluh tahun yang lalu Jaksa Agung sampai mengeluarkan SK untuk malarang
beredarnya poster kalender “Tanah Untuk Rakyat” sebagai sikapnya melawan rezim
Orde Baru.
| his self potrait |
Pamerannya kali
ini menghadirkan pada kita sekeping sejarah masa lalu tentang hilangnya Wiji
Tukul (tribut potretnya ditempatkan di titik yang strategis), bersamaan dengan
majalah Tempo yang turut mengulas sepak terjang aktivis ini. Dibandingkan
pameran yang pernah saya hadiri, saya merasakan roh Yayak sebagai pelukis ikut
merasuk di setiap karyanya : ia begitu hidup dan abadi dalam gurat kehidupan
dan ketertekanan realitas jengkal-jengkal negeri. Seakan-akan semua organnya
dikomandokan untuk menyuarakan ketidaksejahteraan petani, mereka yang putus
sekolah, dan penyelewengan kekuasaan.
Bahkan,
perlakuan Yayak pada tema chaos di
dalam karya-karyanya melebihi dari itu: ia tidak mengindahkan kaidah display pameran (beberapa karyanya
sengaja diletakkan di lantai). Saya pun cukup terkejut ketika mendengar bahwa
gambar Yayak dibanderol tiga juta rupiah per satuannya (pemasangan nominal yang
semasa bodoh dengan respon kolektor).
Bila kita membahas padanya tentang estetika dan teknik karyanya, saya rasa pria berumur yang sering memakai topi pet ini akan menanggapi sambil berucap, “sini,kamu lihat dulu kegundahan pertiwi”.
0 comments:
Post a Comment