100% Menggambar dan Merdeka

Friday, July 12, 2013


Semiotiknya Yayak telanjang, murah meriah, tidak perlu bayar kurator yang mahal-mahal untuk membacanya. –Chandra Johan

Kapan terakhir melihat di pinggir jalan seorang pengemis menengadahkan tangannya dan dengan sekian kali berkata tertatih sambil memasang mimik lirih, “bu…belum makan”. Kapan terakhir memuji sebuah foto berdasar angle atau pencahayaan yang menyajikan deretan rumah reyot di pinggir kali, beserta sisa cucian piring dibasuh dengan air kali yang bau?  Mengenai keberadaan rakyat kecil di lembar keseharian, masihkah kita mengambil aksi karena mereka menyentuh secara nurani?

Ketika Mei lalu saya berkunjung ke pameran Gambar Sebagai Senjata Rakyat Berjiwa Merdeka (oke, betapa tajuk yang lugas dan tegas) semua karyanya eksplosif geram. Sekelumit realita bangsa ditampilkan pada puluhan kanvas yang dicetak grafis. Kuping-kuping setan banyak disematkan pada sejumlah tokoh, pedang berlumuran darah, lanskap khatulistiwa yang dinodai tangan-tangan kapitalis, dan semburan kata berpersonifikasi acung kepal tangan seperti: ‘bakar’, ‘mars pasukan’, dan ‘siap melawan’.


Banyak cerita menarik yang bisa kita dapat tentang Yayak ‘Kecrit’ Yamaka, sang pelukis. Apalah arti kita bila mengeluh asam garam kehidupan dibandingkan dirinya yang (memilih untuk menjadi) seniman aktivis dan bersuara tentang rakyat kecil. Dua puluh tahun yang lalu Jaksa Agung sampai mengeluarkan SK untuk malarang beredarnya poster kalender “Tanah Untuk Rakyat” sebagai sikapnya melawan rezim Orde Baru.

his self potrait
Pamerannya kali ini menghadirkan pada kita sekeping sejarah masa lalu tentang hilangnya Wiji Tukul (tribut potretnya ditempatkan di titik yang strategis), bersamaan dengan majalah Tempo yang turut mengulas sepak terjang aktivis ini. Dibandingkan pameran yang pernah saya hadiri, saya merasakan roh Yayak sebagai pelukis ikut merasuk di setiap karyanya : ia begitu hidup dan abadi dalam gurat kehidupan dan ketertekanan realitas jengkal-jengkal negeri. Seakan-akan semua organnya dikomandokan untuk menyuarakan ketidaksejahteraan petani, mereka yang putus sekolah, dan penyelewengan kekuasaan.


Bahkan, perlakuan Yayak pada tema chaos di dalam karya-karyanya melebihi dari itu: ia tidak mengindahkan kaidah display pameran (beberapa karyanya sengaja diletakkan di lantai). Saya pun cukup terkejut ketika mendengar bahwa gambar Yayak dibanderol tiga juta rupiah per satuannya (pemasangan nominal yang semasa bodoh dengan respon kolektor).


Bila kita membahas padanya tentang estetika dan teknik karyanya, saya rasa pria berumur yang sering memakai topi pet ini akan menanggapi sambil berucap, “sini,kamu lihat dulu kegundahan pertiwi”.


0 comments:

Post a Comment