/sub·lim/

Saturday, May 10, 2014

Spartan Space by Howard Arkley, 1992

Manusia memiliki hubungan emosional dengan benda-benda, lebih baik dibandingkan hubungan tubuh dengan tubuh. Benda bisa menjadi perantara langsung untuk menumbuhkan emosi melalui tubuh, bukan melalui pikiran atau perasaan.
-Afrizal Malna, Kepada Apakah


Lihatlah apa yang ada di sekitar kita. Secara sadar maupun tidak sadar, “benda” berada dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan manusia yang membelinya. Sebuah ruang ditempati dengan sejumlah barang dan manusia menggunakannya untuk tujuan tertentu. Dalam kubikelnya masing-masing, manusia menjadi penimbun. Mereka membeli benda-benda pemuas kebutuhan dan keinginannya. Mulai dari yang impulsif dari selayang pandangan pertama, maupun yang perlu menabung terlebih dahulu. Manusia meletakkan dan menempatkan benda-benda tersebut di kubikel mereka. Dari yang dibawa kemana-kemana, hingga yang tersisa sampai debu menempelinya.

Perwujudan panjang tersebut melahirkan sebuah hubungan bersiklus antara manusia-benda dalam kehidupan sehari-hari. Apakah benda itu komplementer atau subsitusi, tetaplah siklusnya sama: beli-pakai-buang-ganti. Latar kepemilikan adalah tentang kebutuhan dan keinginan. Inovasi tak pernah berhenti untuk memproduksi suatu penciptaan, tak terhitung jumlah benda,benda,benda, yang menumpuk di kubikel dan dunia secara luas. Benda adalah kita sebagai makhluk yang berbudaya.

Apa saja yang berada di kubikel itu, membuat kita menjadi si penimbun yang punya lokasi menaruh. Sangat terjadi, kita memilah benda-benda atas kategori tertentu untuk disimpan menjadi satu. Misalnya cd musik diletakkan di dalam dashboard mobil, hiasan magnet digantung di pintu kulkas, dan kantong kanan celana khusus korek api. Semuanya tak lebih untuk sebuah keteraturan yang mempermudah kita untuk mencari sesuatu.

Punya saya, adalah kotak penyimpanan berbentuk balok 20x25 cm berwarna hitam yang tutupnya ditempeli kolase bikinan sendiri. Saya gunakan ulang kotak itu setelah ia menjadi pembungkus kado ulang tahun ke 21 dari salah seorang teman. Isinya adalah timbunan benda-benda terpilih selama saya nomad empat tahun lamanya: foto-foto kuliah, kartu remi edisi Belanda, stiker/pin band favorit, bahkan kartu pos kiriman dari luar negeri.

Suatu hari yang malang, rumah saya kebanjiran. Dan sang kotak menjadi korban. Ia terendam air hingga merusakkan tetimbunan di dalamnya. Dengan berniat untuk memperbaiki keadaan fisiknya, saya jemur kotak hitam ini di depan rumah agar kering dan membuatnya kembali berarti. Namun saya tetap malang, karena besoknya kotak ini lenyap.

Sejak saat itu, saya menemukan bahwa kata ini sangat tepat:
kenang-kenangan.

Kenang-kenangan merupakan integral dari kata “benda”, yang punya keistimewaan dibandingkan integral lainnya: hadiah, koleksi, bahkan harta. Menurut saya sendiri, kenang-kenangan mempunyai esensi yang lebih personal, lebih romantis. Untuk itu, ia menjadi kata yang dipakai untuk mendeskripsikan benda yang mempunyai konteks cerita kuat, yang terdapat ruang dan waktu. Seperti yang terdapat di dalam isi kotak hitam saya yang semuanya menjadi endapan masa kuliah. Begitu pula dengan permainan fonetisnya: “kenang[jeda]kenangan”. Dalam sekali ucapan, penamaan dan pemaknaannya hadir… dualis.


***


Mengapa ada benda?

Benda adalah perwujudan panjang atas manusia menanggapi alam dan membantu dirinya untuk hidup. Peradaban awal sudah menunjukkan kemampuan manusia purba mengolah materi non hidup seperti tanah liat, yang ia ubah menjadi suatu tiga dimensi baru dan berfungsi sebagai alat berburu, bertarung, dan perkakas sederhana lain. Peradaban yang lebih modern menyisakan penemuan papirus (kertas) di peradaban Sungai Kuning dan roda di peradaban Mesopotamia. Sejarah tercipta dan manusia semakin bergerak melintasi ranah-ranah. Hingga akhirnya mereka sendiri mampu melayangi gravitasi dengan penemuan pesawat terbang. Manusia merasakan udara, lebih dekat dengan angkasa, menembus bumi, mendarat ke bulan. Ilmu pengetahuan diwariskan dan akal nalar tak pernah berhenti. Atau mungkin kita saja yang selalu melayangkan pertanyaan sekaligus menuang gejolak kepada alam. Betapa batas adalah kontekstual.

Kemudian dalam evolusinya, benda menjadi tanpa fisik. Esensi adanya. Disebut data. Manusia milenium dan data. Ruang bumi yang sesak akhirnya menemukan spasinya sendiri. Namun ia tidak berteman dengan epidermis. Indera peraba seperti kehilangan pasangan. Padahal balita selalu merentangkan tangannya ke mana saja dan berusaha sebisa mungkin menggenggam benda yang di sekitarnya. Seperti itulah caranya ia berkenalan dan mencari tahu siapa saja penghuni ruang lewat indera perabanya, karena empat inderanya yang lain masih dalam perkembangan.

Epidermis punya empiris rasa yang selamanya sama ketika menyentuh. Mengetik mempertemukan jemari kita ke tuts komputer, sama seperti hari-hari kemarin. Berlari akan membuat telapak kaki menjejak tanah dan daya kinetis membalas dari bawah hingga ke atas, sampai langkah kita lebih lebar, tubuh kita melelah, sama seperti hari-hari mendatang. Sama seperti kita semua dulu. Waktu balita kita menangis karena kita tidak boleh memegang gelas porselen cantik itu setelah kita susah payah berjingkat-jingkat. Nanti pecah, kata ibu.

Hingga rentang waktu yang panjang, benda menjadi minim fisik, data mengambil alih kehidupan. Bagai Theodore Twombly dan Samantha.


***

Saya percaya, kehadiran seseorang muncul tidak dalam wujud tunggal. Secara tidak langsung akan ada penampakan yang lain, suatu koefisien, meskipun kita berada di ujung dunia sekalipun. Dalam ingatan maupun kenyataan, kehadiran punya ruang dan waktu. Hal ini mirip dengan konsep linguistik di mana sebuah kata tidak akan berdiri sendiri, karena akan ada koefisien yang menyertainya. Entah itu sinonim, antonim, atau asosiasi. Kompleksitas itu yang membuat pembendaharaan makna bervariasi tergantung oleh masing-masing orang.

Hal itu jatuh kepada wujud kematerialan sebagai komplementer kehidupan. Benda menjadi penanda terhadap putaran waktu ketika manusia tumbuh kembang, di samping ia mendefinisikan karakter pemiliknya. Karena ketika kecil kita hanya peduli bahwa boneka yang bisa pipis itu penting. Karena sekarang gadget all in one adalah harus. Relasi manusia dan benda tidak akan pernah terlepas. Orang tumbuh. Benda mengiringi orang tumbuh. Dan kemudian berperan menggarisi kenyataan tentang kita sendiri.

Lihatlah dari benda-benda sederhana di ruang-ruang terdekat kita. Dengan posisi saya yang sedang duduk sendirian di kamar, saya menduduki tempat tidur, sebuah laptop sedang saya gunakan mengetik, lemari pakaian yang terbuka sedikit dan memperlihatkan tumpukan baju di dalamnya, pintu kamar yang saya biarkan tertutup, di baliknya ada meja sofa serta perkakas mebel lain, di garasi ada mobil yang sedang parkir, dan lebih jauh, lebih banyak, dan lebih jauh, lebih banyak.

Apapun yang  terekam pertama dalam lensa mata beserta indera lain membuat kita bisa mendefinisikan apa itu ruang, dan dunia. Kita bisa mencoba hal itu sekarang, merekam apa yang ada di kanan kiri. Menyambungkan sampai titik di mana dunia berputar. Arkeologi telah mencoba hal itu sebelumnya, menggali puing-puing demi merekam apa yang tertinggal di bawah sana. Menyambungkan titik-titik dunia dalam hitungan mundur.

Kehadiran seseorang tidak lagi
muncul dalam bentuk tunggal.
Yakni bukan pada tubuh itu sendiri.
Benda,
tentang lebur emosi dan memori.
Ada kamu, ada kita.

Apakah masih ada nantinya yang disebut
kenang-kenangan?
Ataukah seperti ini nantinya yang disebut
esensi sekunder, tertier, ratusan, ribuan…
di kehidupan berikutnya:
kenangan?

0 comments:

Post a Comment