![]() |
| Spartan Space by Howard Arkley, 1992 |
Manusia memiliki
hubungan emosional dengan benda-benda, lebih baik dibandingkan hubungan tubuh
dengan tubuh. Benda bisa menjadi perantara langsung untuk menumbuhkan emosi
melalui tubuh, bukan melalui pikiran atau perasaan.
-Afrizal Malna, Kepada
Apakah
Lihatlah apa yang ada di sekitar kita. Secara
sadar maupun tidak sadar, “benda” berada dalam jumlah yang lebih banyak
dibandingkan manusia yang membelinya. Sebuah ruang ditempati dengan sejumlah
barang dan manusia menggunakannya untuk tujuan tertentu. Dalam kubikelnya
masing-masing, manusia menjadi penimbun. Mereka membeli benda-benda pemuas
kebutuhan dan keinginannya. Mulai dari yang impulsif dari selayang pandangan
pertama, maupun yang perlu menabung terlebih dahulu. Manusia meletakkan dan
menempatkan benda-benda tersebut di kubikel mereka. Dari yang dibawa
kemana-kemana, hingga yang tersisa sampai debu menempelinya.
Perwujudan panjang tersebut melahirkan sebuah
hubungan bersiklus antara manusia-benda dalam kehidupan sehari-hari. Apakah
benda itu komplementer atau subsitusi, tetaplah siklusnya sama:
beli-pakai-buang-ganti. Latar kepemilikan adalah tentang kebutuhan dan keinginan.
Inovasi tak pernah berhenti untuk memproduksi suatu penciptaan, tak terhitung
jumlah benda,benda,benda, yang menumpuk di kubikel dan dunia secara luas. Benda
adalah kita sebagai makhluk yang
berbudaya.
Apa saja yang berada di kubikel itu, membuat kita
menjadi si penimbun yang punya lokasi menaruh. Sangat terjadi, kita memilah
benda-benda atas kategori tertentu untuk disimpan menjadi satu. Misalnya cd
musik diletakkan di dalam dashboard mobil, hiasan magnet digantung di pintu
kulkas, dan kantong kanan celana khusus korek api. Semuanya tak lebih untuk
sebuah keteraturan yang mempermudah kita untuk mencari sesuatu.
Punya saya, adalah kotak penyimpanan berbentuk balok
20x25 cm berwarna hitam yang tutupnya ditempeli kolase bikinan sendiri. Saya
gunakan ulang kotak itu setelah ia menjadi pembungkus kado ulang tahun ke 21
dari salah seorang teman. Isinya adalah timbunan benda-benda terpilih selama
saya nomad empat tahun lamanya: foto-foto kuliah, kartu remi edisi Belanda,
stiker/pin band favorit, bahkan kartu pos kiriman dari luar negeri.
Suatu hari yang malang, rumah saya kebanjiran.
Dan sang kotak menjadi korban. Ia terendam air hingga merusakkan tetimbunan
di dalamnya. Dengan berniat untuk memperbaiki keadaan fisiknya, saya jemur
kotak hitam ini di depan rumah agar kering dan membuatnya kembali berarti. Namun
saya tetap malang, karena besoknya kotak ini lenyap.
Sejak saat itu, saya menemukan bahwa kata ini
sangat tepat:
kenang-kenangan.
kenang-kenangan.
Kenang-kenangan merupakan integral dari
kata “benda”, yang punya keistimewaan dibandingkan integral lainnya: hadiah, koleksi,
bahkan harta. Menurut saya sendiri, kenang-kenangan mempunyai esensi yang lebih
personal, lebih romantis. Untuk itu, ia menjadi kata yang dipakai untuk
mendeskripsikan benda yang mempunyai konteks cerita kuat, yang terdapat ruang dan waktu. Seperti yang terdapat di dalam isi kotak hitam saya yang semuanya
menjadi endapan masa kuliah. Begitu pula dengan permainan fonetisnya: “kenang[jeda]kenangan”. Dalam sekali
ucapan, penamaan dan pemaknaannya hadir… dualis.
***
Mengapa ada benda?
Benda adalah perwujudan panjang atas manusia
menanggapi alam dan membantu dirinya untuk hidup. Peradaban awal sudah
menunjukkan kemampuan manusia purba mengolah materi non hidup seperti tanah
liat, yang ia ubah menjadi suatu tiga dimensi baru dan berfungsi sebagai alat
berburu, bertarung, dan perkakas sederhana lain. Peradaban yang lebih modern
menyisakan penemuan papirus (kertas)
di peradaban Sungai Kuning dan roda di peradaban Mesopotamia. Sejarah tercipta
dan manusia semakin bergerak melintasi ranah-ranah. Hingga akhirnya mereka
sendiri mampu melayangi gravitasi dengan penemuan pesawat terbang. Manusia merasakan
udara, lebih dekat dengan angkasa, menembus bumi, mendarat ke bulan. Ilmu
pengetahuan diwariskan dan akal nalar tak pernah berhenti. Atau mungkin
kita saja yang selalu melayangkan pertanyaan sekaligus menuang gejolak kepada alam.
Betapa batas adalah kontekstual.
Kemudian dalam evolusinya, benda menjadi tanpa
fisik. Esensi adanya. Disebut data. Manusia milenium dan data. Ruang bumi yang
sesak akhirnya menemukan spasinya sendiri. Namun ia tidak berteman dengan
epidermis. Indera peraba seperti kehilangan pasangan. Padahal balita selalu
merentangkan tangannya ke mana saja dan berusaha sebisa mungkin menggenggam
benda yang di sekitarnya. Seperti itulah caranya ia berkenalan dan mencari tahu
siapa saja penghuni ruang lewat indera perabanya, karena empat inderanya yang
lain masih dalam perkembangan.
Epidermis punya empiris rasa yang selamanya sama
ketika menyentuh. Mengetik mempertemukan jemari kita ke tuts komputer, sama
seperti hari-hari kemarin. Berlari akan membuat telapak kaki menjejak tanah dan
daya kinetis membalas dari bawah hingga ke atas, sampai langkah kita lebih
lebar, tubuh kita melelah, sama seperti hari-hari mendatang. Sama seperti kita
semua dulu. Waktu balita kita menangis karena kita tidak boleh memegang gelas
porselen cantik itu setelah kita susah payah berjingkat-jingkat. Nanti pecah,
kata ibu.
Hingga rentang waktu yang panjang, benda menjadi minim
fisik, data mengambil alih kehidupan. Bagai Theodore Twombly dan Samantha.
***
Saya percaya, kehadiran seseorang muncul tidak
dalam wujud tunggal. Secara tidak langsung akan ada penampakan yang lain, suatu
koefisien, meskipun kita berada di ujung dunia sekalipun. Dalam ingatan maupun kenyataan,
kehadiran punya ruang dan waktu. Hal ini mirip dengan konsep linguistik di mana
sebuah kata tidak akan berdiri
sendiri, karena akan ada koefisien yang menyertainya. Entah itu sinonim,
antonim, atau asosiasi. Kompleksitas itu yang membuat pembendaharaan makna
bervariasi tergantung oleh masing-masing orang.
Hal itu jatuh kepada wujud kematerialan sebagai
komplementer kehidupan. Benda menjadi penanda terhadap putaran waktu ketika
manusia tumbuh kembang, di samping ia mendefinisikan karakter pemiliknya. Karena
ketika kecil kita hanya peduli bahwa boneka yang bisa pipis itu penting. Karena
sekarang gadget all in one adalah
harus. Relasi manusia dan benda tidak akan pernah terlepas. Orang tumbuh. Benda
mengiringi orang tumbuh. Dan kemudian berperan menggarisi kenyataan tentang
kita sendiri.
Lihatlah dari benda-benda sederhana di ruang-ruang terdekat kita. Dengan posisi saya yang sedang duduk sendirian di
kamar, saya menduduki tempat
tidur, sebuah laptop sedang saya gunakan mengetik, lemari pakaian yang terbuka
sedikit dan memperlihatkan tumpukan baju di dalamnya, pintu kamar yang saya
biarkan tertutup, di baliknya ada meja sofa serta perkakas mebel lain, di garasi ada mobil yang sedang parkir, dan lebih jauh, lebih banyak, dan
lebih jauh, lebih banyak.
Apapun yang
terekam pertama dalam lensa mata beserta indera lain membuat kita bisa mendefinisikan
apa itu ruang, dan dunia. Kita bisa mencoba hal itu sekarang, merekam apa yang
ada di kanan kiri. Menyambungkan sampai titik di mana dunia berputar. Arkeologi
telah mencoba hal itu sebelumnya, menggali puing-puing demi merekam apa yang
tertinggal di bawah sana. Menyambungkan titik-titik dunia dalam hitungan
mundur.
Kehadiran seseorang tidak lagi
muncul dalam
bentuk tunggal.
Yakni bukan pada tubuh itu sendiri.
Benda,
tentang lebur emosi dan memori.
Ada kamu, ada kita.
Apakah masih ada nantinya yang disebut
kenang-kenangan?
Ataukah seperti ini nantinya yang disebut
esensi sekunder, tertier, ratusan, ribuan…
di kehidupan berikutnya:
kenangan?

0 comments:
Post a Comment