Semiotiknya Yayak telanjang, murah
meriah, tidak perlu bayar kurator yang mahal-mahal untuk membacanya. –Chandra
Johan
Kapan terakhir
melihat di pinggir jalan seorang pengemis menengadahkan tangannya dan dengan sekian
kali berkata tertatih sambil memasang mimik lirih, “bu…belum makan”. Kapan
terakhir memuji sebuah foto berdasar angle
atau pencahayaan yang menyajikan deretan rumah reyot di pinggir kali, beserta
sisa cucian piring dibasuh dengan air kali yang bau? Mengenai keberadaan rakyat kecil di lembar
keseharian, masihkah kita mengambil aksi karena mereka menyentuh secara nurani?
Ketika Mei lalu
saya berkunjung ke pameran Gambar Sebagai Senjata Rakyat Berjiwa Merdeka (oke,
betapa tajuk yang lugas dan tegas) semua karyanya eksplosif geram. Sekelumit
realita bangsa ditampilkan pada puluhan kanvas yang dicetak grafis.
Kuping-kuping setan banyak disematkan pada sejumlah tokoh, pedang berlumuran
darah, lanskap khatulistiwa yang dinodai tangan-tangan kapitalis, dan semburan
kata berpersonifikasi acung kepal tangan seperti: ‘bakar’, ‘mars pasukan’, dan ‘siap
melawan’.