Resah Reza

Sunday, September 22, 2013

Gue sempat #rapuh karena laptop gue di awal bulan rusak karena iseng-iseng update Windows yang ngebuat sistem operasinya malah crash. Salah satu isinya adalah skripsi gue yang ditaruh di Drive C dan enggak punya back-up. Akhirnya gue mengalihkan frustasi gue ini dengan membuka dan otak-atik laptop lama yang gue pakai ketika dua tahun pertama kuliah.

Gue menemukan folder yang berisi kumpulan tugas semester awal. Isinya macem-macem, tapi gue nemu tulisan yang bikin gue lumayan nyengir setelah seharian manyun. Tulisan ini benar-benar kebetulan yang pas karena hari itu sedang dirayakan Cassette Store Day. Gue mau share tulisan yang merupakan salah satu tugas kuliah Penulisan Populer, dengan tema eksplorasi subjek. Mari! :)


Resah Reza



Mereka menempelkan stiker ‘sale up to 70%’ ke punggung kami semua. Tangan-tangan pegawai toko dengan cekatan menata kami dan meletakkannya berjejer rapi masuk ke deret rak etalase. Kami disusun berdasarkan abjad. Aku sedikit sedih karena berpisah dengan teman-teman seangkatanku. Java Jive, Dewa 19, Bening, Wayang, RSD, Iwa K, Bragi, Kla Project, dan Laluna. Tapi setidaknya aku masih bisa berpuas diri dengan ditempatkan bersebelahan dengan teman terdekatku, Stingky. Lihat, Andre Stingky pada album Terbuka yang perutnya belum membuncit.

Namaku Reza Artamevia. Aaah, tolong kesan pertama yang diingat janganlah Reza si janda Adjie Masaid itu. Atau. kasus perceraian saya yang heboh yang melibatkan guru spiritual Brajamukti. Aku adalah Reza Artamevia, penyanyi pop kondang 90’an. Ya ya ya, lebih tepatnya aku adalah sebuah kaset. Kaset The Best of Reza Artamevia. Kaset yang sudah turun era kejayaannya.

Revolusi di dunia musik sungguh kejam, kawan. Tidak adil bagiku. Kemajuan teknologi membuat semuanya serba praktis, serba digital. Imbasnya ya ke kaum kami! Penemuan CD atau mp3 membuat kaum kami, para kaset terlupakan. Mereka lebih suka mendengarkan musik lewat portable player dan menentengnya ke mana-mana dengan campuran artis di dalamnya tanpa perlu menenteng-nenteng kaset musisi tersebut.

Tapi lihatlah nasib kami semua. Gara-gara bentuk fisik tidak lagi eksis, tempat tinggal kami terancam tutup karena bangkrut. Ya, Aquarius Pondok Indah, salah satu toko musik besar di Jakarta gulung tikar tahun ini. Pemilikku, Pak Soerjoko, tidak bisa bertahan untuk meneruskan bisnis ini dan mengambil keputusan untuk melakukan cuci gudang sebelum tempat ini benar-benar ditutup.

Cuci gudang berlangung selama 3 hari. Hari pertama hiruk pikuk. Karena yang terjadi adalah, para pembeli seperti kesetanan melihat aku dan teman-temanku diobral dengan harga miring. Ya ampun, kamu bisa mendapat tiga kaset dengan hanya membayar Rp. 10.000 saja dan CD diobral dari harga Rp. 30.000. Mereka semua menatap kami seperti tatapan pemburu pada mangsanya. Mereka mengambil kami dari rak secara tidak sabar dan memasukkan ke dalam keranjang belanjaan. Aku rasanya ingin menangis terharu. Sudah lama kaumku tidak diperlakukan agung seperti ini.

Hari kedua pembeli tetap tidak menyurut. Dari kalangan remaja resah yang ingin mencari band-band trendi sampai kalangan berumur yang ingin bernostalgia. Rak etalase pun sudah banyak yang kosong. Para petugas seperti sudah dipersiapkan untuk lebih cekatan melayani pembeli. Banyak dari mereka bertanya masih adakah artis favorit mereka namun berujung dengan kekecewaan karena banyak pula yang sudah terjual.

Esoknya, aku resah. Ini sudah hari ketiga namun aku belum pula diambil manusia untuk dibeli. Teman-temanku semua seperti Kla Project, Nicky Astria, bahkan Fatur&Nadila saja sudah terjual! Ingin rasanya aku berteriak, “Hei ambil aku!” namun aku sadar akan sia-sia. Pengunjung tetap ramai dengan tatapan jelalatan yang sama dan refleks ambil yang cepat. Kemudian aku melihat seseorang datang. Perawakannya nyentrik sekali. Rambut gondrong dengan headband biru di kepalanya, kaos bertuliskan ‘Punk Not Dead’, celana cucut, dan sepatu Doc Martens. Semuanya serba hitam. Ia tata rambutnya dengan gel yang membuat rambutnya berdiri tegak. Oh, anak punk. Huh, sudah pasti ia akan membeli PAS Band. Masih tinggal aku yang bersandar manis di rak etalase.

Tapi kemudian aku terkejut. Terkejut karena aku tidak menyangka ia si anak punk ini mengambilku dari rak. Aku ragu ia salah pilih kaset. Tapi nyatanya tidak. Ia tidak meneruskan melihat-lihat kaset dan CD diskonan yang lain, karena ia langsung membayarku di kasir. Setelah itu ia keluar toko dan masuk ke dalam mobilnya sambil membuka bungkus plastikku. Sambil tertawa terkekeh, ia berkata, “Hahahaha, sakti nih cewek!” dan memasukkanku ke dalam pemutar kaset di mobilnya.

Aku mulai menikmati ini. Si anak punk nan manis begitu senang mendengar tembang-tembang hits-ku. Hampir separuh isi track ia hapal liriknya semua. Aku ingin memainkan peranku dengan sempurna. Karena itu aku bernyayi sepenuh hati. Bernyanyi dengan kejernihan pita suaraku.

Aku dan kamu tak kan tahu
Mengapa kita t’lah berpisah
Walau kita takkan pernah satu
Biarlah aku menyimpan bayangmu
Dan biarkanlah semua menjadi kenangan
Yang terlukis di dalam hatiku
Meskipun perih, namun tetap slalu ada
Di sini…

Aah, bahagia rasanya karena aku kembali dinikmati. Sudah lama aku tidak berpentas di dalam player. Aku pun teringat masa di mana kaumku diburu ketika musisi mengeluarkan album baru mereka. Kami ditumpuk tinggi di etalase terdepan toko dan tinggal menunggu dibawa pulang oleh para penggemar musisi tersebut. Mulai dari sepuluh tahun yang lalu kaumku mulai ditinggalkan akibat pemakaian format CD brengsek itu.

Pertama. Satu yang tak bisa lepas. Dia. Biar menjadi kenangan. Cinta kan membawamu kembali. Yang kedua. Getaran. Cinta kita. Berharap tak berpisah. Apapun yang kamu mau.

Tak lama kemudian, ia membelokkan mobilnya ke sebuah pom bensin. Sambil menunggu antrean, kami pun masih asyik bernyanyi bersama. Malah ia mulai menaikkan volume suara dan semakin menghayati laguku dengan lambaian tangan.

Pertama untukku dan tak kulupa
Diriku terjerat cintamu
Dan aku tak ingin lepas

Kemudian, tiba giliran kami mengisi. Ia membuka kaca jendela dan berkata kepada petugas, “Mas, isi 50”. Si petugas bensin menyambutnya dengan cengiran dan menyetel mesin pengisi sesuai permintaan pelanggan. Setelah transaksi pembayaran selesai, si petugas nyeletuk,
“ Ih anak punk dengernya Reza Artamevia,” sambil tersenyum.

Langsung si anak punk anonim ini menjawab, “Yee, emangnya kenapa? Sirik aja lo mas!”.

Ia lalu menginjak gas dan meninggalkan pom bensin itu dengan kesal.

0 comments:

Post a Comment