Gue sempat #rapuh
karena laptop gue di awal bulan rusak karena iseng-iseng update Windows yang
ngebuat sistem operasinya malah crash. Salah satu isinya adalah skripsi gue
yang ditaruh di Drive C dan enggak punya back-up. Akhirnya gue mengalihkan
frustasi gue ini dengan membuka dan otak-atik laptop lama yang gue pakai ketika
dua tahun pertama kuliah.
Gue menemukan folder
yang berisi kumpulan tugas semester awal. Isinya macem-macem, tapi gue nemu
tulisan yang bikin gue lumayan nyengir setelah seharian manyun. Tulisan ini
benar-benar kebetulan yang pas karena hari itu sedang dirayakan Cassette Store
Day. Gue mau share tulisan yang merupakan salah satu tugas kuliah Penulisan
Populer, dengan tema eksplorasi subjek. Mari! :)
Resah
Reza
Mereka
menempelkan stiker ‘sale up to 70%’ ke
punggung kami semua. Tangan-tangan pegawai toko dengan cekatan menata kami dan
meletakkannya berjejer rapi masuk ke deret rak etalase. Kami disusun
berdasarkan abjad. Aku sedikit sedih karena berpisah dengan teman-teman
seangkatanku. Java Jive, Dewa 19, Bening, Wayang, RSD, Iwa K, Bragi, Kla
Project, dan Laluna. Tapi setidaknya aku masih bisa berpuas diri dengan
ditempatkan bersebelahan dengan teman terdekatku, Stingky. Lihat, Andre Stingky
pada album Terbuka yang perutnya belum
membuncit.
Namaku
Reza Artamevia. Aaah, tolong kesan pertama yang diingat janganlah Reza si janda
Adjie Masaid itu. Atau. kasus perceraian saya yang heboh yang melibatkan guru
spiritual Brajamukti. Aku adalah Reza Artamevia, penyanyi pop kondang 90’an. Ya
ya ya, lebih tepatnya aku adalah sebuah kaset. Kaset The Best of Reza
Artamevia. Kaset yang sudah turun era kejayaannya.
Revolusi
di dunia musik sungguh kejam, kawan. Tidak adil bagiku. Kemajuan teknologi
membuat semuanya serba praktis, serba digital. Imbasnya ya ke kaum kami!
Penemuan CD atau mp3 membuat kaum kami,
para kaset terlupakan. Mereka lebih suka
mendengarkan musik lewat portable player
dan menentengnya ke mana-mana dengan campuran artis di dalamnya tanpa perlu
menenteng-nenteng kaset musisi tersebut.
Tapi
lihatlah nasib kami semua. Gara-gara bentuk fisik tidak lagi eksis, tempat
tinggal kami terancam tutup karena bangkrut. Ya, Aquarius Pondok Indah, salah
satu toko musik besar di Jakarta gulung tikar tahun ini. Pemilikku, Pak
Soerjoko, tidak bisa bertahan untuk meneruskan bisnis ini dan mengambil
keputusan untuk melakukan cuci gudang sebelum tempat ini benar-benar ditutup.
Cuci
gudang berlangung selama 3 hari. Hari pertama hiruk pikuk. Karena yang terjadi
adalah, para pembeli seperti kesetanan melihat aku dan teman-temanku diobral
dengan harga miring. Ya ampun, kamu bisa mendapat tiga kaset dengan hanya
membayar Rp. 10.000 saja dan CD diobral dari harga Rp. 30.000. Mereka semua
menatap kami seperti tatapan pemburu pada mangsanya. Mereka mengambil kami dari
rak secara tidak sabar dan memasukkan ke dalam keranjang belanjaan. Aku rasanya
ingin menangis terharu. Sudah lama kaumku tidak diperlakukan agung seperti ini.
Hari
kedua pembeli tetap tidak menyurut. Dari kalangan remaja resah yang ingin
mencari band-band trendi sampai kalangan berumur yang ingin bernostalgia. Rak
etalase pun sudah banyak yang kosong. Para petugas seperti sudah dipersiapkan
untuk lebih cekatan melayani pembeli. Banyak dari mereka bertanya masih adakah
artis favorit mereka namun berujung dengan kekecewaan karena banyak pula yang
sudah terjual.
Esoknya,
aku resah. Ini sudah hari ketiga namun aku belum pula diambil manusia untuk
dibeli. Teman-temanku semua seperti Kla Project, Nicky Astria, bahkan
Fatur&Nadila saja sudah terjual! Ingin rasanya aku berteriak, “Hei ambil
aku!” namun aku sadar akan sia-sia. Pengunjung tetap ramai dengan tatapan
jelalatan yang sama dan refleks ambil yang cepat. Kemudian aku melihat
seseorang datang. Perawakannya nyentrik sekali. Rambut gondrong dengan headband
biru di kepalanya, kaos bertuliskan ‘Punk Not Dead’, celana cucut, dan sepatu
Doc Martens. Semuanya serba hitam. Ia tata rambutnya dengan gel yang membuat
rambutnya berdiri tegak. Oh, anak punk.
Huh, sudah pasti ia akan membeli PAS Band. Masih tinggal aku yang bersandar
manis di rak etalase.
Tapi
kemudian aku terkejut. Terkejut karena aku tidak menyangka ia si anak punk ini mengambilku dari rak. Aku ragu ia
salah pilih kaset. Tapi nyatanya tidak. Ia tidak meneruskan melihat-lihat kaset
dan CD diskonan yang lain, karena ia langsung membayarku di kasir. Setelah itu
ia keluar toko dan masuk ke dalam mobilnya sambil membuka bungkus plastikku.
Sambil tertawa terkekeh, ia berkata, “Hahahaha, sakti nih cewek!” dan
memasukkanku ke dalam pemutar kaset di mobilnya.
Aku
mulai menikmati ini. Si anak punk nan
manis begitu senang mendengar tembang-tembang hits-ku. Hampir separuh isi track
ia hapal liriknya semua. Aku ingin memainkan peranku dengan sempurna. Karena
itu aku bernyayi sepenuh hati. Bernyanyi dengan kejernihan pita suaraku.
Aku dan kamu tak kan tahu
Mengapa kita t’lah berpisah
Walau kita takkan pernah satu
Biarlah aku menyimpan bayangmu
Dan biarkanlah semua menjadi kenangan
Yang terlukis di dalam hatiku
Meskipun perih, namun tetap slalu ada
Di sini…
Aah,
bahagia rasanya karena aku kembali dinikmati. Sudah lama aku tidak berpentas di
dalam player. Aku pun teringat masa di
mana kaumku diburu ketika musisi mengeluarkan album baru mereka. Kami ditumpuk
tinggi di etalase terdepan toko dan tinggal menunggu dibawa pulang oleh para
penggemar musisi tersebut. Mulai dari sepuluh tahun yang lalu kaumku mulai
ditinggalkan akibat pemakaian format CD brengsek itu.
Pertama.
Satu yang tak bisa lepas. Dia. Biar menjadi kenangan. Cinta kan membawamu
kembali. Yang kedua. Getaran. Cinta kita. Berharap tak berpisah. Apapun yang
kamu mau.
Tak
lama kemudian, ia membelokkan mobilnya ke sebuah pom bensin. Sambil menunggu
antrean, kami pun masih asyik bernyanyi bersama. Malah ia mulai menaikkan
volume suara dan semakin menghayati laguku dengan lambaian tangan.
Pertama untukku dan tak kulupa
Diriku terjerat cintamu
Dan aku tak ingin lepas
Kemudian,
tiba giliran kami mengisi. Ia membuka kaca jendela dan berkata kepada petugas,
“Mas, isi 50”. Si petugas bensin menyambutnya dengan cengiran dan menyetel
mesin pengisi sesuai permintaan pelanggan. Setelah transaksi pembayaran
selesai, si petugas nyeletuk,
“
Ih anak punk dengernya Reza Artamevia,”
sambil tersenyum.
Langsung
si anak punk anonim ini menjawab, “Yee,
emangnya kenapa? Sirik aja lo mas!”.
Ia
lalu menginjak gas dan meninggalkan pom bensin itu dengan kesal.

0 comments:
Post a Comment