Di sisa liburan
kuliah, gue kebetulan mendapat pekerjaan sebagai asisten instruktur
Storytelling di acara Kemdikbud. Kementrian yang diberi anggaran terbesar
negara ini mengadakan pelatihan Video Animasi 2D untuk guru-guru SMP mata
pelajaran mipa dari berbagai provinsi.
Sejauh yang gue tangkap. Kemdikbud ingin membuat metode belajar baru dengan
memakai medium video animasi agar menarik minat belajar siswa di era selebrasi
audio-visual. Pelatihannya pun dibuat intensif selama tiga minggu penuh dengan pembagian beberapa
materi.
Materi Storytelling
menjadi materi pertama dalam membuat video, karena tentu saja sebuah video
harus berhasil menyampaikan sebuah cerita (dan pesan). Jadi, gue berangkat ke
Puncak bersama tim Storytelling yaitu
para instruktur Mas Bonni, Teh Evi, Teh Feby, dan Mas Hikmat bersama Helda,
Fega, dan Ismail.
Gue dipasangkan
dengan Fega dan kita berdua membantu Teh Feby dalam mengajar. Tiap kelas
dibagi per 15 orang guru dan masing- masing dari mereka harus membuat sebuah
naskah skenario video. Yang menjadi tantangan buat kami adalah, ternyata tema
video yang harus dibuat adalah video pelajaran matematika! Kami agak bingung
soalnya kami sudah lupa banget pelajaran matematika itu tentang apa saja. Dan
lucunya, hampir semua guru pun juga agak bingung kalau kita tanya balik cerita
seperti apa yang bisa disangkutpautkan dengan ilmu ini.
Selain dunia kami
yang sudah tidak lagi matematika (haha), ternyata, aneh juga ketika para guru tersebut
juga tidak bisa menerangkan fungsi matematika dalam kehidupan sehari-hari
(untuk kebetuhun cerita yang akan difilmkan). Misalnya contoh kasus yang
ditemui Teh Feby. Pak Rosyidi, salah
seorang guru bilang ia ingin memakai
tema Pencerminan (simetri dll). Ketika ditanya apa guna pencerminan, Pak
Rosyidi memakan waktu untuk berpikir sampai ia menjawab, "hmm ya…biar tahu
jarak kita ke cermin berapa besar". Ya, lalu apa?
Gue akhirnya setuju
kepada pernyataan Teh Febby bahwa, guru-guru tidak paham bagaimana penerapan
ilmu yang mereka ajarkan ke kehidupan. Gue mungkin tidak tahu bagaimana kurikulum pendidikan terbaru, tapi gue
yakin banget (melihat adek gue yang masih pada sekolah) sampai sekarang ilmu
pelajaran yang dikasih di sekolah enggak dipahami baik oleh murid dan gurunya
sendiri. Misalnya, matematika. Yang gue inget adalah adegan kita buka buku
matematika, masuk dalam sebuah bab, dan ketemu angka dan simbolik-simbolik
perhitungan yang harus kita selesaikan. Malah ketika SMA, porsi pelajaran
matematika 3x lipat lebih susah dan enggak relevan untuk dipelajari dalam
konteks sekolah menengah. Tapi, setelah itu apa? Kita pada akhirnya jadi
termomok dengan kesulitan terhadap pelajaran itu sendiri, sehingga menghasilkan
pemikiran penyelesaian dengan mengejar nilai, bukan memaham guna.
Balik lagi ke pihak
guru. Dua jam pertama, para guru pun masih tergagap untuk mencari keterkaitan
matematika dengan kehidupan, di samping kami berusaha mengingat apa saja
tema-tema matematika agar bisa membantu mereka membuat kerangka cerita.
Untungnya, permasalahan bisa segera selesai dan kita bisa menemukan benang
merah antara ilmu dan aplikasinya. Tema Persegi Panjang kita ceritakan dalam
hubungan meja dan taplak, Sudut kita
kisahkan dengan jalan yang berkelok-kelok, dan Transposisi kita kaitkan pada
kekompakan dalam menari (contoh yang terakhir menunjukkan betapa Bu Irma adalah
guru yang cerdas).
![]() |
| Bu Irma yang kita juluki "Si Ranking 1" |
Pada umunya,
hambatan yang ditemukan adalah kesulitan mendeskripsikan keadaan dengan
kata-kata. Contoh kecilnya seperti bagaimana mereka membuat deskripsi tokoh
dengan detail, mulai dari fisik hingga tribut. Begitu juga dengan kelanjutan
alur/babak yang membuat cerita menjadi lompat-lompat, tidak smooth, tidak berkesinambungan. Lucu banget
bagaimana mereka asik mengetik , tenggelam dengan tulisannya, dan tekun
menjalani disiplin skenario yang harus diikuti.
Seminggu setelah
pengajaran, kami kembali lagi ke Puncak untuk merevisi naskah. Beberapa dari
mereka mengalami kemajuan pesat. Setidaknya, mereka tahu bagaimana membuat
narasi yang cukup jelas meskipun dari segi penulisan masih kurang. Tapi, kami
tentunya tidak bisa berharap skenario menjadi sedemikian sempurna karena
terlalu banyak materi yang harus dipelajari oleh guru.
Karena, setelah
materi skenario selesai, mereka harus belajar membuat video sendiri. Itu
berarti mereka harus bisa mengoperasikan Adobe Flash dengan baik dan menghapal
apa fungsinya icon-icon di sana demi kesatuan motion.
Parah, kan? Saat gue masih di sana untuk follow
up di jangka minggu ketiga, masalah semakin nyata karena mereka
kesulitan dalam membuat video. Gue pun enggak bisa memaksakan mereka berpegang
teguh kepada skenario karena realisasi teknisnya sangat sulit sekali bagi
pemula. Seperti dalam cerita Bu Parmi yang tokohnya dipangkas, dari sekumpulan
anak-anak di bis pariwisata disederhanakan dengan perwakilan dua anak saja
dengan suara-suara ramai penanda kerumunan.
Jelas saja, sebuah
video tentu memerlukan kerjasama tim dengan keahlian masing-masing, meski
videonya pendek sekalipun. Kebalikan yang terjadi di sini adalah, para guru
ditugaskan individual untuk membuat videonya sendiri dan kemudian
mempresentasikannya kepada para instruktur dan panitya.
Pelatihan ini
menjadi contoh utopis belaka, alih-alih menyebutnya gagal dalam membuat
pelatihan video. Bagaimana program dipaksaan berjalan namun tidak mengerti akan
proses. Seharusnya pelatihan ini lebih banyak melibatkan banyak orang yang
sesuai latar belakang dan dukung dengan infrastruktur maksimal.
Karena kenyataannya,
beban yang dipikul masing-masing guru terlalu besar. Awalnya mereka kesulitan
dalam menulis, kemudian mereka kesulitan dalam membuat video. Daya penguasaan
masing-masing guru pun pasti berbeda, karena saya melihat beberapa dari daerah
yang bahkan tidak luwes menggunakan komputer.
Dari layar komputer,
seorang gadis dengan muka datar tangannya bergerak bergantian menekuk seperti
huruf L. Gerakan kakinya putus-putus. Musik daerah berkumandang.
Itu adalah gerakan
menari.
Entah bagaimana
reaksi para murid melihat video berdurasi 2-3 menit buatan gurunya sendiri, yang baru saja berlatih
keras melahap materi tiga minggu penuh demi menarik minat mereka belajar.

0 comments:
Post a Comment