Dicari : Guru Mengajar dengan Animasi

Saturday, August 24, 2013


Di sisa liburan kuliah, gue kebetulan mendapat pekerjaan sebagai asisten instruktur Storytelling di acara Kemdikbud. Kementrian yang diberi anggaran terbesar negara ini mengadakan pelatihan Video Animasi 2D untuk guru-guru SMP mata pelajaran mipa  dari berbagai provinsi. Sejauh yang gue tangkap. Kemdikbud ingin membuat metode belajar baru dengan memakai medium video animasi agar menarik minat belajar siswa di era selebrasi audio-visual. Pelatihannya pun dibuat intensif selama tiga  minggu penuh dengan pembagian beberapa materi.

Materi Storytelling menjadi materi pertama dalam membuat video, karena tentu saja sebuah video harus berhasil menyampaikan sebuah cerita (dan pesan). Jadi, gue berangkat ke Puncak bersama tim  Storytelling yaitu para instruktur Mas Bonni, Teh Evi, Teh Feby, dan Mas Hikmat bersama Helda, Fega, dan Ismail.

Gue dipasangkan dengan Fega dan kita berdua membantu Teh Feby dalam mengajar. Tiap kelas dibagi per 15 orang guru dan masing- masing dari mereka harus membuat sebuah naskah skenario video. Yang menjadi tantangan buat kami adalah, ternyata tema video yang harus dibuat adalah video pelajaran matematika! Kami agak bingung soalnya kami sudah lupa banget pelajaran matematika itu tentang apa saja. Dan lucunya, hampir semua guru pun juga agak bingung kalau kita tanya balik cerita seperti apa yang bisa disangkutpautkan dengan ilmu ini.

Selain dunia kami yang sudah tidak lagi matematika (haha), ternyata, aneh juga ketika para guru tersebut juga tidak bisa menerangkan fungsi matematika dalam kehidupan sehari-hari (untuk kebetuhun cerita yang akan difilmkan). Misalnya contoh kasus yang ditemui Teh Feby. Pak Rosyidi, salah seorang guru bilang ia ingin  memakai tema Pencerminan (simetri dll). Ketika ditanya apa guna pencerminan, Pak Rosyidi memakan waktu untuk berpikir sampai ia menjawab, "hmm ya…biar tahu jarak kita ke cermin berapa besar". Ya, lalu apa?

Gue akhirnya setuju kepada pernyataan Teh Febby bahwa, guru-guru tidak paham bagaimana penerapan ilmu yang mereka ajarkan ke kehidupan. Gue mungkin tidak tahu bagaimana kurikulum pendidikan terbaru, tapi gue yakin banget (melihat adek gue yang masih pada sekolah) sampai sekarang ilmu pelajaran yang dikasih di sekolah enggak dipahami baik oleh murid dan gurunya sendiri. Misalnya, matematika. Yang gue inget adalah adegan kita buka buku matematika, masuk dalam sebuah bab, dan ketemu angka dan simbolik-simbolik perhitungan yang harus kita selesaikan. Malah ketika SMA, porsi pelajaran matematika 3x lipat lebih susah dan enggak relevan untuk dipelajari dalam konteks sekolah menengah. Tapi, setelah itu apa? Kita pada akhirnya jadi termomok dengan kesulitan terhadap pelajaran itu sendiri, sehingga menghasilkan pemikiran penyelesaian dengan mengejar nilai, bukan memaham guna.

Balik lagi ke pihak guru. Dua jam pertama, para guru pun masih tergagap untuk mencari keterkaitan matematika dengan kehidupan, di samping kami berusaha mengingat apa saja tema-tema matematika agar bisa membantu mereka membuat kerangka cerita. Untungnya, permasalahan bisa segera selesai dan kita bisa menemukan benang merah antara ilmu dan aplikasinya. Tema Persegi Panjang kita ceritakan dalam hubungan meja dan taplak, Sudut kita kisahkan dengan jalan yang berkelok-kelok, dan Transposisi kita kaitkan pada kekompakan dalam menari (contoh yang terakhir menunjukkan betapa Bu Irma adalah guru yang cerdas).

Bu Irma yang kita juluki "Si Ranking 1"
Pada umunya, hambatan yang ditemukan adalah kesulitan mendeskripsikan keadaan dengan kata-kata. Contoh kecilnya seperti bagaimana mereka membuat deskripsi tokoh dengan detail, mulai dari fisik hingga tribut. Begitu juga dengan kelanjutan alur/babak yang membuat cerita menjadi lompat-lompat, tidak smooth, tidak berkesinambungan. Lucu banget bagaimana mereka asik mengetik , tenggelam dengan tulisannya, dan tekun menjalani disiplin skenario yang harus diikuti.

Seminggu setelah pengajaran, kami kembali lagi ke Puncak untuk merevisi naskah. Beberapa dari mereka mengalami kemajuan pesat. Setidaknya, mereka tahu bagaimana membuat narasi yang cukup jelas meskipun dari segi penulisan masih kurang. Tapi, kami tentunya tidak bisa berharap skenario menjadi sedemikian sempurna karena terlalu banyak materi yang harus dipelajari oleh guru.

Karena, setelah materi skenario selesai, mereka harus belajar membuat video sendiri. Itu berarti mereka harus bisa mengoperasikan Adobe Flash dengan baik dan menghapal apa fungsinya icon-icon di sana demi kesatuan motion. Parah, kan? Saat gue masih di sana untuk follow up di jangka minggu ketiga, masalah semakin nyata karena mereka kesulitan dalam membuat video. Gue pun enggak bisa memaksakan mereka berpegang teguh kepada skenario karena realisasi teknisnya sangat sulit sekali bagi pemula. Seperti dalam cerita Bu Parmi yang tokohnya dipangkas, dari sekumpulan anak-anak di bis pariwisata disederhanakan dengan perwakilan dua anak saja dengan suara-suara ramai penanda kerumunan.

Jelas saja, sebuah video tentu memerlukan kerjasama tim dengan keahlian masing-masing, meski videonya pendek sekalipun. Kebalikan yang terjadi di sini adalah, para guru ditugaskan individual untuk membuat videonya sendiri dan kemudian mempresentasikannya kepada para instruktur dan panitya.

Pelatihan ini menjadi contoh utopis belaka, alih-alih menyebutnya gagal dalam membuat pelatihan video. Bagaimana program dipaksaan berjalan namun tidak mengerti akan proses. Seharusnya pelatihan ini lebih banyak melibatkan banyak orang yang sesuai latar belakang dan dukung dengan infrastruktur maksimal.

Karena kenyataannya, beban yang dipikul masing-masing guru terlalu besar. Awalnya mereka kesulitan dalam menulis, kemudian mereka kesulitan dalam membuat video. Daya penguasaan masing-masing guru pun pasti berbeda, karena saya melihat beberapa dari daerah yang bahkan tidak luwes menggunakan komputer.

Dari layar komputer, seorang gadis dengan muka datar tangannya bergerak bergantian menekuk seperti huruf L. Gerakan kakinya putus-putus. Musik daerah berkumandang.

Itu adalah gerakan menari.

Entah bagaimana reaksi para murid melihat video berdurasi 2-3 menit buatan gurunya sendiri, yang baru saja berlatih keras melahap materi tiga minggu penuh demi menarik minat mereka belajar.

0 comments:

Post a Comment