Berhenti ngekos setelah menempuh delapan semester
lamanya berarti kembali mengakrabi rumah. Saya sudah sangat mapan tinggal di
Depok (bukan berarti mapan keuangan, namun mapan dengan lingkungan haha),
sampai-sampai sudah punya kartu belanja Hypermart terdekat dan punya langganan
tukang pijit di sana. Teman bahkan sampai bercanda mengenai domisili temporer
saya ini, "Kalau keluarga lagi makan bersama, bakal ada kursi kosong tak
berpenghuni. Kalau lagi melewati petak-petak isi rumah, akan terlewat sebuah
kamar yang sudah lama tak ditempati…".
Salah satu perihal
yang sangat terasa buat saya ketika tinggal di rumah adalah kehadiran si kucing
hitam. Kami sebenarnya
sudah lama mempunyai kucing peliharaan, namun ia selalu ditempatkan di kantor
Babe yang berlokasi di Bintaro Sektor 2. Karena saya telah jarang menginjak
kaki ke sana, maka otomatis kehadirannya tidak mempunyai cukup kesan, sampai
pada akhirnya kucing tersebut dipindahkan ke rumah. Jadi, bukan hanya saya yang
pindah.
Pertama, saya memang
tidak terlalu suka kucing. Dulu saat kecil, saya pernah memelihara kucing liar.
Ia adalah betina cantik yang pernah saya temukan, mata hitamnya bersinar dan
punya bulu berbelang emas-putih yang bersih. Segera saya jadikan ia binatang
peliharan dan saya namakan ia Alma. Sayangnya, minggu pertama ia naik kasta
atas sebuah rumah bernaung, Alma tidak mengesankan sang majikan. Alma sering
mengendap-endap masuk ke dapur dan mencolong ikan goreng. Dasar mental kucing
jalanan. Akibat ulahnya ini, Mama saya melarang memelihara kucing dan putuslah
hubungan kami berdua. Setelah diberhentikan statusnya secara sepihak, Alma pun
menghilang dari peredaran dan pergi menyongsong hidup baru. Oleh karena itu,
kesan saya terhadap kucing sebagai binatang peliharaan tidak pernah bagus.
Beberapa hari
tinggal di rumah, saya pun harus beradaptasi dengan kehadiran si kucing hitam,
yang dibeli adik terkecil saya, Djene, di pet
shop. Kucing hitam berjenis anggora dengan ekor lonjong ini adalah
tipe-tipe kucing pet shop: hobi tidur,
tidak tahan kena outdoor, dan manja. Dan
yang paling bikin saya shock adalah
ketika bertanya pada Djene siapa namanya. Djene yang duduk sambil bermain
dengan kucing hitam ini, berkata, "namanya Entot".
Apa? Entot?
Saya diam melengos
lima detik lamanya, sampai bertanya kembali untuk memastikan. "Hah,
namanya Entot?". Ini benar-benar konyol. Menurut saya nasib kucing tak
bersalah ini sial sekali karena dinamakan dengan istilah informal dari kata bersenggama. Dan sepertinya, tidak ada yang
paham bahwa "Entot" ini punya makna negatif, mulai dari ortu,
adik-adik, dan pembantu. Jadi, saya punya hipotesa pribadi dengan pendekatan
sosiolinguistik bahwa kata "entot" adalah kata yang muncul di dasawarsa
pertama abad 21 dan hanya dikenal oleh orang di usia pertengahan kelas
tertentu. Oh, #abaikan.
Entot, Entot, Entot.
Karena sudah ada
trauma sebelumnya, saya jarang membelai-belai Entot seperti orang lain, apalagi
memberinya makan. Menurut saya, kucing itu bulunya bikin bengek dan tidak punya
fungsi khusus selain penyaluran kegemasan. Jadi, saya cenderung acuh. Namun, memasuki
bulan kedua tinggal di rumah, saya mulai akrab dengannya, terlebih lagi ketika
saya mengerjakan skripsi sehingga lebih sering ada di rumah. Karena ortu dan
adik-adik pergi ke kantor dan ke sekolah, hanya tersisa saya dan Entot di
rumah.
Keakraban kami mulai
terjalin ketika saya sedang asyik mengetik skripsi di kamar dan Entot dengan
ringan kaki menyelinap masuk. Ia memanfaatkan kesempatan bebas masuk atas pintu
kamar saya yang sudah rusak dan tidak bisa dikunci. Sebegitu ringan kakinya sampai
ia mendarat di keyboard dan menginjak tuts sembarangan, menyisakan tulisan
"khciew86r324ujqiedhq9" di layar. Sebegitu ringan kakinya sampai ia
ikut tidur di kasur, menemani saya yang sering ketiduran saat mengetik, dengan
Entot yang selalu bangun belakangan. Karena hal ini sering terjadi, saya yang
dulu ogah menyentuh kucing, walhasil
kejadian juga membelai kepalanya ketika ia memperlihatkan raut muka super bikin
luluh dengan pupil membesar yang menegaskan mata hitam dan lentur mulut
kecilnya. Adegan tersebut persis seperti Puss in Boots merayu Shrek agar ia
dibiarkan ikut dalam rombongan. Sejak kejadian itu, saya meresmikan kehadiran
Entot sebagai salah satu bagian dari penghuni rumah. #klaimgariskeras
![]() |
| "Ayy... It looks amazing on bed" -Sasha Grey |
Suatu siang Entot
pernah bikin ulah yang membuat saya kaget. Kala itu saya sedang menuju dapur
dan melihat bercak-bercak berwarna cokelat di dapur. Setelah jongkok dan
memperhatikan lebih jauh, ternyata itu adalah cairan muntahan. EEEYYYYUUHHH!!!! Yang lebih bikin eneg lagi adalah, dalam muntahannya terdapat
beberapa serpihan daun. Langsung saja status tersangka dilayangkan pada Entot
karena itu adalah muntahan kucing dan karena ia baru saja bermain di taman.
Saya langsung me-WhatsApp Tya, teman saya si pencinta kucing. Ia bilang kucing
memang terkadang muntah jika ia memakan bulu sendiri atau memakan sesuatu yang
lain. Kepanikan atas berubahnya Entot menjadi kucing vegetarian ini kemudian
hilang ketika Arkham, saudara saya yang seorang doktor me-mention, "kucing kadang makan daun untuk membersihkan saluran
pencernaan. Tapi langsung dimuntahkan kembali karena tidak punya enzim untuk
mencernanya".
Ooh uuh, baiklah.
Bikin kaget saja.
Dasar Entottt!!!!
Ups ingat, yang
barusan bukan makian atau umpatan. Tapi memang begitulah namanya.
Belum lama ini ada
yang berubah dari Entot. Bukan karena ia tampak lebih rapi karena habis dari
salon atau sedang khasmaran. Namun, karena ini: ketika saya baru saja pulang
agak larut setelah bepergian, Djene belum tertidur dan ia bermain-main dengan
si kucing hitam seperti biasa. "Paris…Paris…", Djene mengelus-elus
kucing itu. "Hmm?" saya menoleh sambil lalu, namun Djene menambahkan
omongannya yang membuat saya menaruh perhatian. "Kak, nama kucing ini
sudah ganti, bukan lagi Entot".
Dan saya kembali
melengos.
Ia sekarang bernama
Hotman Paris.


0 comments:
Post a Comment