Keganjilan Kucing Hitam

Wednesday, March 5, 2014


Berhenti ngekos setelah menempuh delapan semester lamanya berarti kembali mengakrabi rumah. Saya sudah sangat mapan tinggal di Depok (bukan berarti mapan keuangan, namun mapan dengan lingkungan haha), sampai-sampai sudah punya kartu belanja Hypermart terdekat dan punya langganan tukang pijit di sana. Teman bahkan sampai bercanda mengenai domisili temporer saya ini, "Kalau keluarga lagi makan bersama, bakal ada kursi kosong tak berpenghuni. Kalau lagi melewati petak-petak isi rumah, akan terlewat sebuah kamar yang sudah lama tak ditempati…".

Salah satu perihal yang sangat terasa buat saya ketika tinggal di rumah adalah kehadiran si kucing hitam. Kami sebenarnya sudah lama mempunyai kucing peliharaan, namun ia selalu ditempatkan di kantor Babe yang berlokasi di Bintaro Sektor 2. Karena saya telah jarang menginjak kaki ke sana, maka otomatis kehadirannya tidak mempunyai cukup kesan, sampai pada akhirnya kucing tersebut dipindahkan ke rumah. Jadi, bukan hanya saya yang pindah.

Pertama, saya memang tidak terlalu suka kucing. Dulu saat kecil, saya pernah memelihara kucing liar. Ia adalah betina cantik yang pernah saya temukan, mata hitamnya bersinar dan punya bulu berbelang emas-putih yang bersih. Segera saya jadikan ia binatang peliharan dan saya namakan ia Alma. Sayangnya, minggu pertama ia naik kasta atas sebuah rumah bernaung, Alma tidak mengesankan sang majikan. Alma sering mengendap-endap masuk ke dapur dan mencolong ikan goreng. Dasar mental kucing jalanan. Akibat ulahnya ini, Mama saya melarang memelihara kucing dan putuslah hubungan kami berdua. Setelah diberhentikan statusnya secara sepihak, Alma pun menghilang dari peredaran dan pergi menyongsong hidup baru. Oleh karena itu, kesan saya terhadap kucing sebagai binatang peliharaan tidak pernah bagus.

Beberapa hari tinggal di rumah, saya pun harus beradaptasi dengan kehadiran si kucing hitam, yang dibeli adik terkecil saya, Djene, di pet shop. Kucing hitam berjenis anggora dengan ekor lonjong ini adalah tipe-tipe kucing pet shop: hobi tidur, tidak tahan kena outdoor, dan manja. Dan yang paling bikin saya shock adalah ketika bertanya pada Djene siapa namanya. Djene yang duduk sambil bermain dengan kucing hitam ini, berkata, "namanya Entot".

Apa? Entot?
Saya diam melengos lima detik lamanya, sampai bertanya kembali untuk memastikan. "Hah, namanya Entot?". Ini benar-benar konyol. Menurut saya nasib kucing tak bersalah ini sial sekali karena dinamakan dengan istilah informal dari kata bersenggama. Dan sepertinya, tidak ada yang paham bahwa "Entot" ini punya makna negatif, mulai dari ortu, adik-adik, dan pembantu. Jadi, saya punya hipotesa pribadi dengan pendekatan sosiolinguistik bahwa kata "entot" adalah kata yang muncul di dasawarsa pertama abad 21 dan hanya dikenal oleh orang di usia pertengahan kelas tertentu. Oh, #abaikan.

Entot, Entot, Entot.

Karena sudah ada trauma sebelumnya, saya jarang membelai-belai Entot seperti orang lain, apalagi memberinya makan. Menurut saya, kucing itu bulunya bikin bengek dan tidak punya fungsi khusus selain penyaluran kegemasan. Jadi, saya cenderung acuh. Namun, memasuki bulan kedua tinggal di rumah, saya mulai akrab dengannya, terlebih lagi ketika saya mengerjakan skripsi sehingga lebih sering ada di rumah. Karena ortu dan adik-adik pergi ke kantor dan ke sekolah, hanya tersisa saya dan Entot di rumah.

Keakraban kami mulai terjalin ketika saya sedang asyik mengetik skripsi di kamar dan Entot dengan ringan kaki menyelinap masuk. Ia memanfaatkan kesempatan bebas masuk atas pintu kamar saya yang sudah rusak dan tidak bisa dikunci. Sebegitu ringan kakinya sampai ia mendarat di keyboard dan menginjak tuts sembarangan, menyisakan tulisan "khciew86r324ujqiedhq9" di layar. Sebegitu ringan kakinya sampai ia ikut tidur di kasur, menemani saya yang sering ketiduran saat mengetik, dengan Entot yang selalu bangun belakangan. Karena hal ini sering terjadi, saya yang dulu ogah menyentuh kucing, walhasil kejadian juga membelai kepalanya ketika ia memperlihatkan raut muka super bikin luluh dengan pupil membesar yang menegaskan mata hitam dan lentur mulut kecilnya. Adegan tersebut persis seperti Puss in Boots merayu Shrek agar ia dibiarkan ikut dalam rombongan. Sejak kejadian itu, saya meresmikan kehadiran Entot sebagai salah satu bagian dari penghuni rumah. #klaimgariskeras

"Ayy... It looks amazing on bed" -Sasha Grey

Suatu siang Entot pernah bikin ulah yang membuat saya kaget. Kala itu saya sedang menuju dapur dan melihat bercak-bercak berwarna cokelat di dapur. Setelah jongkok dan memperhatikan lebih jauh, ternyata itu adalah cairan muntahan.  EEEYYYYUUHHH!!!! Yang lebih bikin eneg lagi adalah, dalam muntahannya terdapat beberapa serpihan daun. Langsung saja status tersangka dilayangkan pada Entot karena itu adalah muntahan kucing dan karena ia baru saja bermain di taman. Saya langsung me-WhatsApp Tya, teman saya si pencinta kucing. Ia bilang kucing memang terkadang muntah jika ia memakan bulu sendiri atau memakan sesuatu yang lain. Kepanikan atas berubahnya Entot menjadi kucing vegetarian ini kemudian hilang ketika Arkham, saudara saya yang seorang doktor me-mention, "kucing  kadang makan daun untuk membersihkan saluran pencernaan. Tapi langsung dimuntahkan kembali karena tidak punya enzim untuk mencernanya".

Ooh uuh, baiklah. Bikin kaget saja.
Dasar Entottt!!!!

Ups ingat, yang barusan bukan makian atau umpatan. Tapi memang begitulah namanya.

Belum lama ini ada yang berubah dari Entot. Bukan karena ia tampak lebih rapi karena habis dari salon atau sedang khasmaran. Namun, karena ini: ketika saya baru saja pulang agak larut setelah bepergian, Djene belum tertidur dan ia bermain-main dengan si kucing hitam seperti biasa. "Paris…Paris…", Djene mengelus-elus kucing itu. "Hmm?" saya menoleh sambil lalu, namun Djene menambahkan omongannya yang membuat saya menaruh perhatian. "Kak, nama kucing ini sudah ganti, bukan lagi Entot".

Dan saya kembali melengos.
Ia sekarang bernama Hotman Paris.

0 comments:

Post a Comment