Resah Reza

Sunday, September 22, 2013

Gue sempat #rapuh karena laptop gue di awal bulan rusak karena iseng-iseng update Windows yang ngebuat sistem operasinya malah crash. Salah satu isinya adalah skripsi gue yang ditaruh di Drive C dan enggak punya back-up. Akhirnya gue mengalihkan frustasi gue ini dengan membuka dan otak-atik laptop lama yang gue pakai ketika dua tahun pertama kuliah.

Gue menemukan folder yang berisi kumpulan tugas semester awal. Isinya macem-macem, tapi gue nemu tulisan yang bikin gue lumayan nyengir setelah seharian manyun. Tulisan ini benar-benar kebetulan yang pas karena hari itu sedang dirayakan Cassette Store Day. Gue mau share tulisan yang merupakan salah satu tugas kuliah Penulisan Populer, dengan tema eksplorasi subjek. Mari! :)

Dicari : Guru Mengajar dengan Animasi

Saturday, August 24, 2013


Di sisa liburan kuliah, gue kebetulan mendapat pekerjaan sebagai asisten instruktur Storytelling di acara Kemdikbud. Kementrian yang diberi anggaran terbesar negara ini mengadakan pelatihan Video Animasi 2D untuk guru-guru SMP mata pelajaran mipa  dari berbagai provinsi. Sejauh yang gue tangkap. Kemdikbud ingin membuat metode belajar baru dengan memakai medium video animasi agar menarik minat belajar siswa di era selebrasi audio-visual. Pelatihannya pun dibuat intensif selama tiga  minggu penuh dengan pembagian beberapa materi.

Materi Storytelling menjadi materi pertama dalam membuat video, karena tentu saja sebuah video harus berhasil menyampaikan sebuah cerita (dan pesan). Jadi, gue berangkat ke Puncak bersama tim  Storytelling yaitu para instruktur Mas Bonni, Teh Evi, Teh Feby, dan Mas Hikmat bersama Helda, Fega, dan Ismail.

Gue dipasangkan dengan Fega dan kita berdua membantu Teh Feby dalam mengajar. Tiap kelas dibagi per 15 orang guru dan masing- masing dari mereka harus membuat sebuah naskah skenario video. Yang menjadi tantangan buat kami adalah, ternyata tema video yang harus dibuat adalah video pelajaran matematika! Kami agak bingung soalnya kami sudah lupa banget pelajaran matematika itu tentang apa saja. Dan lucunya, hampir semua guru pun juga agak bingung kalau kita tanya balik cerita seperti apa yang bisa disangkutpautkan dengan ilmu ini.

Mengalun

Sunday, July 28, 2013

"The Swing" J.H Fragonad  1767

Alunan itu adalah ketika tubuhmu mendekat, sejajar denganku, dan turut mengerjakan hal yang  kutekuni beberapa menit lalu. Rintik gerimis yang  bergema di atas genting mengaburkan telinga sampai kudengar seletukan keluar dari mulut kecilmu.

"Borealis-nya sudah tercipta lebih dari dua puluh. Beberapa kamerad sudah mencoba melempar jaring-jaring untuk membawanya pulang".

100% Menggambar dan Merdeka

Friday, July 12, 2013


Semiotiknya Yayak telanjang, murah meriah, tidak perlu bayar kurator yang mahal-mahal untuk membacanya. –Chandra Johan

Kapan terakhir melihat di pinggir jalan seorang pengemis menengadahkan tangannya dan dengan sekian kali berkata tertatih sambil memasang mimik lirih, “bu…belum makan”. Kapan terakhir memuji sebuah foto berdasar angle atau pencahayaan yang menyajikan deretan rumah reyot di pinggir kali, beserta sisa cucian piring dibasuh dengan air kali yang bau?  Mengenai keberadaan rakyat kecil di lembar keseharian, masihkah kita mengambil aksi karena mereka menyentuh secara nurani?

Ketika Mei lalu saya berkunjung ke pameran Gambar Sebagai Senjata Rakyat Berjiwa Merdeka (oke, betapa tajuk yang lugas dan tegas) semua karyanya eksplosif geram. Sekelumit realita bangsa ditampilkan pada puluhan kanvas yang dicetak grafis. Kuping-kuping setan banyak disematkan pada sejumlah tokoh, pedang berlumuran darah, lanskap khatulistiwa yang dinodai tangan-tangan kapitalis, dan semburan kata berpersonifikasi acung kepal tangan seperti: ‘bakar’, ‘mars pasukan’, dan ‘siap melawan’.

Wherever May Roam...

Tuesday, July 2, 2013

Potret oleh Andri Mario Septian / Hopla

Nyengir lebar dulu :B

Yep, ketika nulis blog ini, gue berada dalam konteks situasi di mana UAS telah selesai dan bernyanyi Libur Telah Tiba. Sebetulnya UAS semester ini enggak terlalu berdarah sih, malah gue merasa ragu bisa ngemeng banyak di kertas jawaban karena semester ini kurang giat belajar ;p

Penghujung akhir semester kali ini bisa dibilang bulan-bulan yang “ketat” (meminjam istilah teman) dengan hitungan pagi yang lebih sedikit dibandingkan malam. Bulan Mei acara lagi seabrek-abreknya di kampus, mulai dari pementasan teater (Teater Agora, Teater Pagupon, dan English Art Lab), satu pertunjukkan tari dari Nartana Buddhaya, dan empat perhelatan musik (Hopla, Philosophair, Francoustic, dan Ngamen Sastra).

Yang mau gue ceritakan adalah waktu-waktu gue bareng Dolphin Division.

Menengok isi "Sangkar Madu"

Thursday, June 27, 2013


“Barusan pulang dari sana, hawanya tuh ngomong Bahasa Korea. Jadi mau beli ini itu, ngucapnya tuh Bahasa Korea. Jadi pada bingung.”

Agak sulit mengerti apa maksud dari ‘teater Dokumenter’ yang diproklamasikan oleh Teater Garasi lewat pementasan mereka, “Sangkar Madu” (1/6). Mungkin, karena pengetahuan saya yang tidak seberapa dalam bidang seni pertunjukkan ini. Dengan membaca pamflet yang diberikan ke penonton sebelum pementasan dimulai, tertulislah di sana bahwa teater dokumenter adalah ‘teater yang mengangkat suatu isu sosial di masyarakat dengan mengolah fakta dan data-data penelitian yang diwujudkan ke atas panggung’.

Isu sosial yang diangkat adalah buruh migran. Seperti yang kita tahu, Indonesia memasok banyak sekali tenaga kerja ke luar negeri. Kisah ironis yang sering diberitakan media massa mengenai mereka adalah perlakuan dari tuan rumah yang semena-mena. Upah yang tidak dibayar, objek pelecehan seksual, dan yang lebih mengenaskan lagi adalah terjadinya kasus kematian akibat dibunuh tuan rumah maupun bunuh diri.

Namun, Sangkar Madu yang telah dipentaskan di Jogja dan Blitar sebelum saya menontonnya di Erasmus Huis, Jakarta tidak menceritakan kisah gelap migran buruh sebagai kerangka drama mereka. Sangkar Madu menunjukkan seperti apa identitas dan modal budaya (cultural capital) yang didapat dari para buruh migran sekembalinya mereka ke tanah air.

Menantang Street Art, Menantang Ruang

Monday, June 24, 2013


Sekilas adalah rumah besar bergaya kontemporer yang menjadi basis dari sebuah collective artist di bilangan Cimanggis, Cibubur. Namun, jika anda melangkah ke ruang galeri, terlihat ruangan yang dindingnya tercoreng warna-warni dan menyerukan suara-suara jalan.

Kini, galeri Roemah 9a bukan lagi wujudnya yang biasa. Seluruh dindingnya, sampai ke langit-langit, dengan penjamahan berbagai jengkal yang bisa dijadikan medium, habis terpakai untuk menjamu berbagai rupa Street Art ditambah semburan slogan kata-kata subversif seperti, ‘tetap masih bisa tertawa walau ditipu negara’ yang banyak membuat titik henti pandangan.

Pameran Street Art Menantang Ruang adalah sebuah tema yang dipilih oleh komunitas Roemah 9a. Pameran yang dibuka secara resmi tanggal 27 April 2013 ini menampilkan sekitar dua puluh street artist yang telah biasa memarkah ruang publik. Antara lain Bujangan Urban, Andi Rharahrha, Here Here, Koma, juga The Yellow Dino beserta lainnya yang berasal dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Tangerang, sampai Garut. Tidak tanggung-tanggung, mereka diizinkan untuk memarkah langsung ruang galeri.

“Kita memang sudah memikirkan hal ini dari awal. Esensi street art sendiri adalah kejelian mereka dalam menindak dan menyiasati ruang demi menciptakan medium karya rupa. Oleh karena itu, kami pun sebagai pihak penyelenggara juga bertindak radikal, yaitu menjadikan dinding galleri sebagai kanvas mereka.

Dolphin Division Press Release

Sunday, June 9, 2013




Awalnya, sekawan Filsafat 2009 yakni Rizky, Noorca, dan
Faturrahman menjadi lebih akrab karena mempunyai
ketertarikan yang sama. Ketiganya punya latar bermusik yang
telah mereka mulai sebelum masa kuliah: ngeband dan mengisi
panggung kecil menjadi hal biasa. Sehingga, ketika
ketiganya mengisi peran di perhelatan kampus Sastra namun
dengan formasi terpisah – Noorca menyanyi perdana di Melodi
Kansas, Faturrahman yang sering jadi additional band, dan
Rizky yang lebih dulu mapan dengan Filosofi Empat Negara ‒
bisa kita tebak pastilah sekawan ini berbuat sesuatu. Tags
: cabut kuliah, nongkrong di meja oren, dan Led Zeppelin.
Tidak lama, muncul sosok di seberang bernama Raga, Sastra
Perancis 2010 yang menampilkan talentanya dalam membetot
bass. Berbekal referensi jazz dan pengalaman additional di
beberapa band lokal, Raga ikut memasukkan banyak warna yang
mendukung eksplorasi band. Formasi band kemudian dilengkapi oleh
Goldy, Sastra Inggris 09, drummer yang sebelumnya
bermain di Melting Pot. Peleburan dari masing-masing
musikalitas mereka adalah blues yang sarat nuansa
psychedelic. The Experience Club menjadi nama titik mula
mereka, hingga selanjutnya, pada sebuah malam dengan
kondisi mata setengah, The Experience Club mengubah alter
ego-nya menjadi Dolphin Division. Kredit panggung yang
telah tercatat adalah Anniversary Expressions – Philo Art
Space, Festival Budaya 2012, dan Unfinished Galeri Antara.
MuddyWaters, Janis Joplin, dan Led Zeppelin adalah nomor-nomor
yang sering dibawakan Dolphin Division.Tak lama, Dolphin
akan kembali dengan racikan lagu-lagu sendiri yang
mengindikasikan ekspresi audial mereka yang makin mandiri.

CP : Caca 0877-85147595

Sekedar Salam

Sunday, April 21, 2013


Jeda waktu yang tersedia selalu tertunda dan terdahului oleh kelelahan fisik. Gerutu muncul, bantal menyambut. Pekara selesai dengan cara demikian. Itulah saya setelah sekian lalu, yang saya rasai tidak punya alkisah kelana. Padahal saya, akan tarikan gravitasi menyamping, seringkali memperdekat jarak pandang, jarak kenal, jarak rasa. Bukan hanya dalam sebuah wujud hidup yang berarti makhluk, namun juga ruang. Terikat bisa menjadi sangat mudah bila punya kaki yang dimaksimalkan sempurna.

Seperti halnya mereka, saya ingin menyalurkan pemikiran di sini.  Membuat saya ingat akan sekarang, mengiyakan dahulu, menanti nanti. Lemari kaca yang ini berukuran tak hingga untuk menampung alkisah kelana rupa-bunyi-sastra yang ingin masuk. Etalase yang leluasa bagi siapa saja :)

Salam suit Jepang,
Annayu Maharani